Sejarah Astana Anyar Bandung, Dari Kota Kuburan Hingga Jadi Pusat Perdagangan dan Pasar Loak
Pernah enggak sih, saat Wargi Bandung melintas di kawasan Astana Anyar, terlintas di pikiran kenapa daerah ini selalu ramai dengan aktivitas jual beli? Mulai dari perlengkapan rumah tangga bekas hingga suku cadang otomotif, semuanya ada di sini.
Tapi, tahukah kamu kalau di balik riuk pikuknya pasar loak dan padatnya pemukiman Astana Anyar saat ini, ada perjalanan sejarah panjang yang cukup unik?
Nah, kali ini Mimin mau ngajak kalian menelusuri asal-usul dan sejarah kawasan Astana Anyar yang dulunya ternyata erat kaitannya dengan julukan Bandung sebagai Kota Kuburan.
Penasaran kan? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!
Asal-usul Nama Astana Anyar
Secara etimologi atau bahasa, kata Astana Anyar berasal dari bahasa Sunda. Kata Astana berarti kuburan atau pemakaman, sedangkan Anyar berarti baru. Jadi, jika digabungkan, Astana Anyar secara harfiah memiliki arti Kuburan Baru.
Nama ini mulai muncul sekitar abad ke-20, di saat Kota Bandung sedang gencar-gencarnya berkembang menjadi kota yang lebih modern, tertata, dan ramai penduduk.
Alasan Bandung Sempat Dijuluki Kota Kuburan
Kembali ke masa kolonial Hindia Belanda, masyarakat pribumi di Bandung punya tradisi unik dalam menguburkan anggota keluarga mereka yang meninggal dunia. Kala itu, jenazah umumnya dimakamkan tepat di area pekarangan rumah masing-masing.
Sementara itu, kelompok masyarakat etnis Eropa dan Tionghoa sudah memiliki kawasan tempat pemakaman sendiri yang berpusat di kawasan Jalan Banceuy.
Karena kebiasaan warga pribumi yang menguburkan jenazah di pekarangan rumah tersebut, pemakaman warga jadi tersebar acak di berbagai sudut area pemukiman.
Kondisi ini membuat Kota Bandung pada masa itu sempat dikenal dengan sebutan Kota Kuburan.
Penataan Pemakaman oleh Pemerintah Hindia Belanda
Melihat kondisi pemakaman yang berserakan di pekarangan rumah warga, Pemerintah Hindia Belanda menilai hal tersebut kurang baik untuk estetika tata kota, kebersihan, hingga kesehatan lingkungan.
Oleh karena itu, pemerintah kolonial melarang keras kebiasaan warga menguburkan jenazah di pekarangan rumah.
Sebagai solusinya, pemerintah menyediakan kawasan pemakaman umum terpadu yang baru.
Dua lokasi utama yang dibuka kala itu adalah Kawasan Sirnaraga dan Kawasan Astana Anyar. Dari pemakaman baru inilah nama kawasan Astana Anyar akhirnya melekat hingga hari ini.
Menjadi Pusat Perdagangan dan Pasar Loak
Seiring berjalannya waktu dan pesatnya pemukiman penduduk, kawasan yang dulunya difungsikan sebagai area peristirahatan terakhir ini mengalami berevolusi yang sangat signifikan.
Astana Anyar kini beralih fungsi dari kawasan pemakaman menjadi salah satu pusat niaga dan kegiatan ekonomi utama bagi warga Kota Bandung.
Kawasan ini sangat kasohor (terkenal) dengan Pasar Loak Astana Anyar.
Di sepanjang jalan, kalian bisa menemukan berbagai pedagang barang bekas (thrift/secondhand) berkualitas, mulai dari peralatan dan perabotan rumah tangga, elektronik dan aksesor, hingga berbagai sparepart hingga suku cadang otomotif
Sangat menarik ya, Wargi! Tempat yang dulunya dikenal identik dengan kawasan pemakaman kini berubah menjadi salah satu nadi perekonomian dan pusat perdagangan barang bekas paling legendaris di Kota Bandung.
Nah, itu dia sekelumit sejarah mengenai Astana Anyar. Kalau kalian sendiri, sering belanja barang loak apa nih di Astana Anyar?


