Qasidah Modern Almanar, Nostalgia Musik Religi Tasikmalaya - Ada masa ketika suara qasidah begitu mudah ditemukan di tengah kehidupan masyarakat.
Setiap ada acara Maulid Nabi, pengajian, atau hajatan, hampir selalu ada suara musik religi yang terdengar dari pengeras suara.
Kadang suaranya masih samar dari kejauhan, tetapi begitu telinga menangkap iramanya, kita sudah bisa menebak, Oh, itu lagu qasidah.
Buat Mimin, kenangan tentang qasidah bukan cuma soal musik.
Ada cerita tentang masa ketika kaset masih menjadi teman sehari-hari. Kalau ada album qasidah yang baru, rasanya ingin segera punya. Kaset dimasukkan ke tape, kemudian diputar berulang-ulang sampai kita hafal liriknya.
Kalau sudah bosan mendengarkan di rumah, kaset itu kadang dipinjamkan kepada teman. Besoknya balik lagi, lalu diputar kembali.
Begitulah cara kita menikmati musik pada zaman itu. Belum ada YouTube, Spotify, dan belum ada musik yang tinggal dicari melalui ponsel.
Kalau ingin mendengarkan lagu tertentu, ya harus punya kasetnya, meminjam dari teman, atau menunggu lagu tersebut diputar di acara tertentu.
Kemudian zamannya berubah. Kaset mulai tergeser oleh VCD.
Lagu-lagu qasidah nggak cuma bisa didengarkan, tetapi juga ditonton. VCD qasidah diputar di televisi, terutama ketika ada acara keluarga, pengajian, Maulid Nabi atau hajatan.
Dari situlah nama-nama grup qasidah mulai begitu akrab di telinga Mimin. Salah satu yang paling membekas adalah Qasidah Modern Almanar.
Ada sesuatu dari lagu-lagu Almanar yang membuatnya berbeda.
Aransemen musiknya sudah lebih modern, tetapi nuansa qasidah dan pesan religi tetap terasa. Lagu-lagunya pun nggak melulu berbicara tentang ibadah secara langsung.
Ada cerita tentang kehidupan, keluarga, persahabatan, remaja, cinta, nasihat dan berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Mungkin karena terlalu sering mendengarkan lagu-lagu Almanar, akhirnya musik tersebut bukan cuma menjadi sesuatu yang didengarkan, tetapi ikut menjadi bagian dari perjalanan Mimin.
Sampai akhirnya, Mimin dan teman-teman pernah punya sebuah grup qasidah bernama ALLIDA.
Di grup inilah lagu-lagu Almanar semakin sering dibawakan.
Lagu yang awalnya hanya didengar dari kaset atau VCD, kemudian dicoba dimainkan dan dinyanyikan sendiri.
Ada rasa senang tersendiri ketika lagu yang selama ini cuma terdengar dari tape atau televisi akhirnya bisa dibawakan bersama teman-teman.
Dari acara kecil sampai hajatan, dari kegiatan keagamaan sampai acara Maulid Nabi, lagu-lagu Almanar menjadi salah satu pilihan yang sering kami bawakan.
Kalau sekarang mengingatnya kembali, rasanya seperti membuka kembali satu lembar kenangan lama.
Ada suara kaset yang berputar, VCD yang dimainkan di televisi, pengeras suara dari acara Maulid Nabi di kejauhan, dan suasana hajatan dengan panggung sederhana.
Dan ada kami, anak-anak muda yang waktu itu begitu menikmati musik qasidah sampai akhirnya membentuk grup sendiri bernama ALLIDA.
Karena itu, ketika membicarakan Qasidah Modern Almanar, Mimin nggak cuma melihatnya sebagai sebuah grup musik religi dari Tasikmalaya.
Almanar punya cerita yang jauh lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Musiknya pernah hadir di rumah, di masjid, di panggung hajatan, di acara Maulid Nabi, bahkan ikut menemani perjalanan anak-anak muda yang kemudian mencoba membawakan lagu-lagunya sendiri.
Dari kenangan itulah, Mimin kemudian mencoba melihat kembali perjalanan panjang Qasidah Modern Almanar.
Awal Berdirinya Qasidah Almanar di Tasikmalaya
Kalau sekarang kita mengenal Almanar sebagai kelompok qasidah modern dengan aransemen musik yang lebih lengkap, sejarahnya justru berawal dari bentuk musik yang jauh lebih sederhana.
Almanar dibentuk sekitar 1960 oleh KH Muhammad Syam di Pondok Pesantren Sukahideng, Singaparna.
Pada awalnya, Almanar menggunakan format qasidah rebana sebagai salah satu media dakwah.
Jadi, sejak awal sebenarnya sudah terlihat bahwa musik Almanar mempunyai hubungan yang kuat dengan lingkungan pesantren.
Musik bukan hanya ditempatkan sebagai hiburan, tetapi juga menjadi salah satu cara menyampaikan pesan keagamaan kepada masyarakat.
Pada masa tersebut, qasidah rebana tentu mempunyai karakter yang berbeda dengan musik modern sekarang.
Instrumen yang digunakan lebih sederhana sehingga kekuatan utama berada pada vokal, irama rebana dan pesan yang terdapat dalam syair.
Namun zaman terus berubah, selera masyarakat juga berubah, dan di sinilah perjalanan Almanar menjadi menarik.
Dari Qasidah Rebana Menjadi Qasidah Modern
Ada satu hal yang membuat sejarah Almanar menarik untuk dibahas. Perubahan tersebut bukan sekadar mengganti alat musik.
Transformasi Almanar merupakan proses penyesuaian terhadap perkembangan zaman dan selera masyarakat.
Perubahan besar terjadi pada 1978, ketika Almanar bertransformasi dari qasidah rebana menjadi qasidah modern.
Instrumen rebana kemudian dilengkapi dengan perangkat musik modern seperti keyboard, gitar dan drum.
Hasilnya tentu berbeda.
Kalau sebelumnya musik qasidah terdengar lebih sederhana, setelah masuknya instrumen modern, aransemen bisa dibuat lebih bervariasi.
Inilah yang kemudian menjadi salah satu ciri penting Qasidah Modern Almanar.
Musiknya tetap membawa nuansa religi, tetapi cara penyajiannya menjadi lebih dekat dengan perkembangan musik yang sedang disukai masyarakat.
Menariknya lagi, perubahan nggak hanya terjadi pada musik. Bahasa dalam lagu juga mengalami perkembangan.
Jika sebelumnya lirik lebih banyak menggunakan bahasa Arab, kemudian muncul penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Sunda.
Tujuannya agar pesan yang dibawakan lebih mudah dipahami oleh masyarakat yang menjadi pendengarnya.
Faktor perubahan Almanar datang dari dua sisi. Pertama, faktor internal berupa pengalaman estetis para anggotanya.
Kedua, faktor eksternal berupa keinginan masyarakat terhadap bentuk kesenian yang lebih sesuai dengan selera yang terus berubah.
Menurut Mimin, justru di sinilah kekuatan Almanar.
Mereka nggak meninggalkan identitas qasidah, tetapi mencoba mencari cara baru supaya qasidah tetap bisa didengarkan oleh masyarakat.
Almanar dan Pengaruh Musik Dangdut
Kalau pernah mendengarkan lagu-lagu Almanar, mungkin ada yang merasa musiknya berbeda dari gambaran qasidah pada umumnya.
Ada nuansa dangdut klasik yang cukup terasa. Hal tersebut juga pernah dicatat dalam tulisan yang membahas Qasidah Modern Almanar Tasikmalaya.
Musik Almanar disebut mempunyai warna yang mengarah pada nuansa dangdut klasik, tetapi tetap mempertahankan karakter musik religi qasidah.
Hal ini sebenarnya cukup masuk akal.
Tasikmalaya dan wilayah Priangan Timur mempunyai sejarah musik yang kuat. Musik dangdut juga mempunyai tempat tersendiri di tengah masyarakat.
Karena itu, ketika qasidah modern berkembang dengan memasukkan unsur musik yang lebih populer, hasilnya menjadi lebih mudah diterima.
Bukan berarti qasidah berubah menjadi dangdut sepenuhnya. Identitas religiusnya tetap ada.
Namun aransemen musik dibuat lebih dinamis sehingga bisa dinikmati oleh pendengar yang lebih luas.
Bisa dibilang, Almanar berhasil mencari titik tengah antara dakwah, tradisi dan hiburan.
Almanar dan Perjalanan Menuju Masa Keemasan
Perjalanan Almanar nggak berhenti setelah berubah menjadi qasidah modern. Pada era 1970-an, kelompok ini mulai semakin dikenal.
Almanar pernah meraih prestasi dalam festival tingkat Jawa Barat. Setelah itu, album perdana mereka yang berjudul Gema Adzan mendapat sambutan publik dan tawaran manggung mulai berdatangan.
Nama Almanar kemudian semakin kuat.
Kalau melihat daftar album yang terdokumentasi di berbagai sumber penggemar, perjalanan rekaman Almanar terbilang panjang.
Ada Gema Adzan, Gema Wahyu, Seri Hijrah Rasul, Bumi Pertiwi, Penunjuk Jalan, Pengantin Baru, Risalahmu, Kehidupan, Untukmu Remaja, Kasih Sejati, Bencana AIDS, Di Hadapan Ka'bah, Kesan Haromain, Narkoba, Dilema, Ashabiyah, Peran Suratan, Pengabdian, Mari Bersama, Khusumat, Hamba Uang, Fatamorgana, Cinta Negeri, dan sejumlah album berikutnya.
Panjang banget, ya?
Itulah yang membuat Almanar bukan sekadar kelompok qasidah yang muncul sebentar kemudian hilang.
Mereka mengalami beberapa kali regenerasi namun tetap bertahan dan terus dikenal penggemarnya.
Lagu-Lagu Almanar yang Membawa Banyak Kenangan
Kalau membicarakan Almanar, rasanya kurang lengkap kalau nggak menyebut lagu-lagunya.
Salah satu hal menarik dari katalog Almanar adalah banyaknya tema yang mereka angkat.
Ada lagu yang berbicara mengenai kehidupan, tentang persahabatan, orang tua, remaja, keimanan, dan ada pula lagu yang mengingatkan manusia mengenai dunia dan kehidupan akhirat.
Pada album-album awal, misalnya, terdapat lagu seperti Gema Adzan, Wulidal Huda, Peranan Iman, Rayuan Berbisa, Ya Hawa, Perkenan Tuhan, Do'a, Salam Ka Panutan dan Liajli Salam.
Kemudian ada pula lagu-lagu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari seperti Sahabat Karib, Pesan Bunda, Hidup Sementara, Aku dan Kamu, Siapakah Temanmu dan Pengantin Baru.
Dari judul-judulnya saja sudah terlihat bahwa Almanar nggak selalu menyampaikan dakwah dengan bahasa yang berat.
Ada pesan yang sederhana, ada pula yang mengajak pendengar merenung.
Dan justru karena dekat dengan kehidupan sehari-hari itulah lagu-lagu tersebut bisa melekat di ingatan.
Mungkin itu juga yang membuat lagu-lagu Almanar mudah dibawakan kembali oleh grup-grup qasidah seperti ALLIDA.
Ketika sebuah lagu mempunyai melodi yang enak didengar dan lirik yang mudah diingat, lagu tersebut terasa lebih mudah untuk dipelajari dan dibawakan bersama.
Album Almanar Vol. 6 sampai Vol. 10
Memasuki album-album berikutnya, katalog Almanar semakin panjang.
Pada Vol. 6 – Pengantin Baru, misalnya, terdapat lagu seperti Pengantin Baru, Ya Dzal Karamah, Sifat Manusia, Sahabat Karib, Pesan Bunda, Segala Puji Bagimu, Ya Abdal Hawa, Siapakah Temanmu, Hidup Sementara dan Aku dan Kamu.
Kemudian Vol. 7 – Risalahmu membawa lagu seperti Risalahmu, Suara Persaudaraan, Bagaikan Bunga, Ya Masyibi, Marhaban Ya'ied, Keangkuhan dan Di Perjalanan.
Pada Vol. 8 – Kehidupan, ada Kehidupan, Bilakah Kau Berbintang, Dam'iy, Sahabat Karib 2, Alaika Ya Robbi dan Sengketa Dunia.
Sementara Vol. 9 – Untukmu Remaja membawa tema yang lebih dekat dengan generasi muda melalui lagu Untukmu Remaja, Kebahagiaan, Cinta Damai, Misimu dan Allohu Akbar.
Kemudian ada Vol. 10 – Kasih Sejati, dengan lagu seperti Kasih Sejati, 'Ismanie, Masa, Renungan, Siapakah Gerangan dan Thola’al Badru ‘Alaina.
Dari perjalanan tersebut kita bisa melihat bagaimana Almanar berusaha membawa tema yang beragam.
Dari Nasihat Kehidupan sampai Kritik Sosial
Yang menarik dari karya-karya Almanar adalah tema yang dibawa nggak melulu soal ibadah secara langsung.
Ada pula kritik sosial, misalnya pada Vol. 11 – Bencana AIDS, Almanar membawa tema tentang AIDS, sementara album lainnya mengangkat persoalan seperti narkoba, ambisi, kedudukan dan berbagai persoalan kehidupan.
Ada Vol. 14 – Narkoba, Vol. 16 – Ashabiyah, Vol. 21 – Hamba Uang, dan Vol. 22 – Fatamorgana.
Artinya, musik Almanar juga berfungsi sebagai media untuk membicarakan persoalan yang sedang terjadi di masyarakat.
Musik menjadi kendaraan untuk menyampaikan pesan.
Pendengar mendapatkan hiburan, tetapi di saat bersamaan ada sesuatu yang bisa direnungkan.
Almanar Vol. 20: Khusumat
Salah satu album yang cukup mudah ditemukan kembali di internet adalah Almanar Vol. 20 – Khusumat.
Kanal YouTube Qasidah Almanar official mempublikasikan materi Khusumat Vol. 20 dan video tersebut telah mendapatkan lebih dari satu juta penayangan.
Ini menunjukkan bahwa lagu-lagu lama Almanar ternyata masih memiliki pendengar di era digital.
Bayangkan saja.
Lagu yang lahir dari perjalanan panjang musik qasidah bisa kembali ditemukan oleh generasi yang mungkin nggak pernah mengalami masa ketika kaset menjadi media utama untuk mendengarkan musik.
Sekarang orang cukup mengetik nama Almanar di YouTube. Lagu lama pun kembali terdengar.
Almanar Vol. 24 dan Vol. 25
Perjalanan Almanar nggak berhenti pada album-album lama. Salah satu dokumentasi yang cukup jelas adalah Vol. 24 – Kilau Dunia Remaja.
Setelah album tersebut, Almanar kemudian merilis Vol. 25 – Paradigma.
Kanal Qasidah Almanar official menyebut Vol. 25 sebagai album terbaru setelah Vol. 24 Kilau Dunia Remaja. Album tersebut diberi judul Paradigma dan dipublikasikan sekitar 2021.
Album Vol. 25 berisi beberapa lagu, di antaranya Paradigma, Pesona Rumah-Mu, Untuk Shaka Tercinta 2, Syifa Masyibi, Santunilah, Ingin Aku Dicintamu 3 dan Fishobah 2.
Lagu Paradigma sendiri tercatat sebagai karya Ridwan Syam.
Tema lagunya berbicara tentang kehidupan, keimanan, pilihan manusia dan kepasrahan kepada Tuhan.
Sementara lagu Pesona Rumah-Mu membawa suasana spiritual yang lebih kuat dengan tema tentang rumah Allah, rahmat dan kehidupan dunia yang sementara.
Di sinilah terlihat bahwa Almanar tetap mempertahankan benang merahnya. Zaman boleh berubah, peralatan musik boleh berubah.
Cara orang mendengarkan musik juga berubah, tetapi pesan religi tetap menjadi bagian penting dari identitas Almanar.
Siapa Ridwan Syam di Qasidah Modern Almanar?
Dalam perjalanan Almanar, nama Ridwan Syam juga cukup penting.
Sejumlah dokumentasi mengenai Almanar mencatat Ridwan Syam sebagai pimpinan kelompok.
Salah satu sumber pengarsipan lirik juga mencantumkan Manager Asep Ruhana, BSc dan Pimpinan Ridwan Syam, serta menyebut keberadaan Almanar Recording Studio.
Nama Ridwan Syam juga tercatat sebagai pencipta lagu Paradigma dan Pesona Rumah-Mu pada Vol. 25.
Kreativitas kelompok di bawah pimpinan Ridwan Syam terus berkembang hingga memasuki masa keemasan pada dekade 1990-an.
Jadi kalau kita melihat perjalanan Almanar, regenerasi menjadi salah satu bagian penting dalam mempertahankan eksistensi kelompok tersebut.
Kenapa Almanar Bisa Bertahan Begitu Lama?
Mungkin ini pertanyaan yang menarik. Kenapa sebuah kelompok qasidah bisa bertahan melewati perubahan zaman?
Menurut Mimin, salah satu jawabannya ada pada kemampuan Almanar beradaptasi. Mereka nggak memaksakan qasidah untuk tetap berada dalam bentuk lama.
Ketika masyarakat mulai menyukai musik dengan aransemen lebih modern, Almanar ikut berubah.
Ketika pendengar membutuhkan lirik yang lebih mudah dipahami, penggunaan bahasa Indonesia dan Sunda ikut berkembang.
Ketika tema kehidupan masyarakat berubah, materi lagu juga ikut berkembang.
Transformasi tersebut merupakan salah satu strategi untuk mempertahankan seni musik Islam di tengah kehidupan musik yang semakin beragam.
Dan menurut Mimin, ini pelajaran yang cukup menarik. Tradisi nggak selalu harus berarti menolak perubahan. Kadang tradisi justru bisa bertahan karena mau beradaptasi.
Almanar dan Kenangan Generasi 80-an dan 90-an
Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an dan 1990-an, musik Almanar mungkin mempunyai cerita tersendiri.
Dulu, mendapatkan album baru bukan perkara tinggal membuka aplikasi streaming. Orang harus membeli kaset atau mencari dari teman.
Bahkan ada masa ketika album baru Almanar dinantikan, terutama menjelang Ramadan dan Lebaran.
Pada era 1990-an para penggemar menantikan rilisan album Almanar yang biasanya hadir menjelang Ramadan atau Lebaran.
Coba bayangkan suasananya. Satu kaset bisa diputar berulang-ulang. Lagu yang sama terdengar setiap hari.
Anak-anak ikut menyanyi, orang tua ikut mendengarkan. Kemudian bertahun-tahun berlalu. Ketika suatu hari lagu tersebut kembali terdengar, kenangan lama bisa muncul begitu saja.
Itulah kekuatan musik, kadang kita nggak mengingat tanggalnya. Nggak ingat kapan pertama kali mendengarnya, tetapi kita masih ingat rasanya.
Almanar di Era YouTube
Sekarang cara menikmati musik sudah jauh berbeda. Kaset sudah bukan lagi media utama.
Orang mencari lagu melalui YouTube dan berbagai platform digital. Menariknya, Almanar juga memiliki kanal Qasidah Almanar official di YouTube.
Beberapa video mereka mendapatkan jumlah penonton yang cukup besar.
Video Almanar Vol. 25 – Paradigma, misalnya, tercatat telah mendapatkan lebih dari dua juta penayangan pada hasil pencarian yang tersedia.
Video Khusumat Vol. 20 juga telah menembus lebih dari satu juta penayangan. Artinya, nostalgia terhadap Almanar nggak berhenti di generasi lama.
Musik mereka masih dicari, masih didengarkan, dan masih diperkenalkan kembali melalui internet.
Internet akhirnya menjadi semacam jembatan antara generasi lama dengan generasi baru.
Anak muda yang mungkin nggak pernah melihat kaset Almanar sekarang bisa mengenalnya melalui YouTube.
Qasidah Modern Almanar, Warisan Musik Religi dari Tasikmalaya
Buat Mimin, Qasidah Modern Almanar bukan hanya tentang lagu religi. Almanar adalah bagian dari perjalanan budaya musik Tasikmalaya.
Kelompok ini memperlihatkan bagaimana musik Islam bisa tumbuh dari lingkungan pesantren, kemudian berkembang mengikuti selera masyarakat tanpa harus kehilangan identitasnya.
Dari awal berdiri sekitar 1960, transformasi menjadi qasidah modern pada 1978, hingga masa keemasan pada dekade 1990-an dan berlanjut ke era album-album berikutnya, Almanar telah melewati perjalanan yang panjang.
Sekarang, ketika teknologi sudah berubah dan lagu-lagu lama bisa dicari hanya dengan mengetik namanya di YouTube, rasanya seperti mendapatkan kesempatan untuk kembali ke masa lalu.


