Sejarah Desa Rancamanyar: Dari Rawa hingga Jadi Permukiman Padat di Kabupaten Bandung

 

Sejarah Desa Rancamanyar Kabupaten Bandung

Sejarah Desa Rancamanyar: Dari Rawa Hinga Jadi Permukiman Padat di Kabupaten Bandung -Suatu sore, Mimin pernah berdiri di pinggir jalan Rancamanyar sambil memperhatikan deretan rumah yang saling berdempetan, motor yang lalu lalang tanpa jeda, dan suara pedagang yang bersahut-sahutan.

Di tengah keramaian itu, Mimin sempat bertanya dalam hati, “Beneran dulu tempat ini rawa?”

Pertanyaan itu terasa wajar, karena Rancamanyar hari ini adalah kawasan padat penduduk yang nyaris nggak pernah tidur. Tapi justru di situlah menariknya.

Di balik hiruk pikuknya, Rancamanyar menyimpan sejarah panjang yang pelan-pelan membentuk wajahnya seperti sekarang.

Banyak orang mengenal Rancamanyar hanya sebagai salah satu desa di Kabupaten Bandung dengan aktivitas warganya yang padat.

Padahal, jauh sebelum bangunan permanen berdiri dan jalan-jalan ramai dilalui kendaraan, wilayah ini adalah hamparan persawahan dan rawa-rawa luas.

Sejarah Rancamanyar bukan cuma tentang perubahan fisik wilayah, tapi juga tentang bagaimana manusia beradaptasi dengan alam, lalu perlahan mengubahnya.

Asal-Usul Nama dan Kondisi Alam Rancamanyar Tempo Dulu


Nama Rancamanyar lahir dari kedekatan warga dengan alam sekitarnya. Menurut para tokoh dan sesepuh desa, kata “Rancamanyar” berasal dari dua kata Sunda, yaitu ranca dan manyar.

Ranca berarti rawa atau lahan basah, sementara manyar merujuk pada burung manyar yang dulunya banyak hidup di kawasan ini.

Kombinasi dua kata ini menggambarkan kondisi alam Rancamanyar di masa lalu, yakni areal persawahan dan rawa-rawa yang dipenuhi burung manyar.

Dulu, wilayah Rancamanyar dikenal memiliki mata air alami yang membuat sebagian area sawah selalu tergenang. Kedalaman rawa di beberapa titik bahkan sulit diukur batasnya.

Kondisi ini menjadikan air sebagai unsur penting dalam kehidupan masyarakat. Aktivitas bertani, pola hidup, hingga kebiasaan sosial sangat bergantung pada alam.

Burung manyar yang beterbangan bebas menjadi pemandangan sehari-hari dan akhirnya melekat kuat dalam identitas wilayah ini.

Mimin membayangkan Rancamanyar tempo dulu sebagai tempat yang tenang, dengan suara alam lebih dominan dibanding suara manusia.

Gambaran ini mungkin terasa asing bagi generasi sekarang, tapi cerita-cerita lisan tentangnya masih hidup di tengah masyarakat.

Sejarah Rancamanyar Dari Masa Kolonial hingga Terbentuknya Desa


Letak Rancamanyar yang strategis di wilayah selatan Bandung membuatnya punya peran penting sejak masa kolonial Belanda.

Konon, daerah ini pernah menjadi jalur logistik karena posisinya yang menghubungkan beberapa wilayah.

Meski catatan tertulisnya nggak banyak, cerita rakyat tentang perjuangan petani lokal dan aktivitas di masa kolonial masih sering diceritakan oleh warga yang lebih tua.

Tahun 1918 menjadi titik penting dalam sejarah Rancamanyar. Pada tahun itu, masyarakat menggelar musyawarah yang dihadiri para tokoh dan sesepuh desa.

Konon katanya, ada sekitar sepuluh orang sesepuh yang berkumpul dan akhirnya menyepakati nama wilayah ini sebagai Desa Rancamanyar.

Luas wilayahnya saat itu mencapai sekitar 705,080 hektare, jauh lebih luas dibandingkan kondisi administratif saat ini.

Setelah resmi terbentuk sebagai desa, perjalanan Rancamanyar nggak langsung berjalan mulus. Menurut cerita tokoh masyarakat, desa ini sempat mengalami kekosongan pimpinan selama kurang lebih sepuluh tahun.

Baru pada tahun 1928, masyarakat akhirnya bisa melaksanakan pemilihan kepala desa. Momen ini menjadi awal tertatanya pemerintahan desa dan simbol kemandirian warga dalam mengatur kehidupan sosial mereka.

Dalam perkembangan administratif selanjutnya, Desa Rancamanyar masuk dalam wilayah Kecamatan Baleendah sejak diberlakukannya Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1992.

Peresmian perubahan status Kecamatan Baleendah dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat pada 14 Agustus 1992, yang menandai babak baru dalam tata kelola pemerintahan wilayah ini.

Perubahan Wajah Rancamanyar Saat Ini


Seiring berjalannya waktu, Rancamanyar mengalami transformasi besar. Lahan persawahan dan rawa-rawa perlahan berubah menjadi permukiman.

Pertumbuhan penduduk, kebutuhan hunian, dan aktivitas ekonomi mendorong wilayah ini berkembang menjadi kawasan padat penduduk di Kabupaten Bandung.

Rumah-rumah berdiri rapat, jalan-jalan semakin ramai, dan kehidupan sosial menjadi semakin dinamis.

Secara geografis, Desa Rancamanyar berbatasan dengan Desa Cangkuang Kulon di sebelah utara, Desa Rancamulya di sebelah selatan, Desa Bojong Malaka di sebelah timur, serta Desa Sukamukti di sebelah barat.

Letak ini menjadikan Rancamanyar berada di posisi strategis, dekat dengan berbagai pusat aktivitas masyarakat.

Saat ini, luas wilayah Desa Rancamanyar sekitar 352,450 hektare. Berbagai fasilitas umum tersedia untuk menunjang kehidupan warga, mulai dari kantor pemerintahan desa, tempat pemakaman umum, pasar tradisional, hingga jaringan jalan yang menghubungkan antarwilayah.

Jarak tempuh menuju ibu kota kecamatan sekitar lima kilometer, sementara ke pusat kabupaten dan provinsi bisa ditempuh dalam waktu relatif singkat menggunakan kendaraan bermotor, meskipun kondisi lalu lintas sering kali memengaruhi lamanya perjalanan.

Sejarah yang Tetap Hidup Sampai Sekarang


Bagi Mimin, sejarah Rancamanyar bukan cuma deretan tahun atau catatan administratif. Ia hidup dalam ingatan warga, dalam cerita lisan, dan dalam nama yang masih digunakan sampai sekarang.

Meski wajahnya telah berubah drastis, Rancamanyar tetap menyimpan jejak masa lalu yang membentuk identitas warganya.

Dari rawa yang sunyi hingga menjadi kawasan padat penduduk, Rancamanyar menunjukkan bagaimana sebuah wilayah bisa berkembang tanpa sepenuhnya kehilangan akar sejarahnya.

Di sinilah sejarah nggak hanya tersimpan di buku, tapi juga hidup berdampingan dengan keseharian masyarakatnya.

Terima kasih atas kunjungannya, silakan tinggalkan jejak di kolom komentar