Misteri di Balik Nama Jalan Sripohaci, Bandung - Pernah suatu sore Mimin melintas di salah satu sudut Kota Bandung, tepatnya di kawasan yang nggak terlalu ramai tapi punya aura tenang. Di sana, terpampang papan nama jalan yang bikin Mimin berhenti sejenak, yaitu Jalan Sripohaci.
Nama ini terdengar indah, lembut, dan terasa sangat Sunda. Tapi justru karena itulah rasa penasaran muncul.
Kenapa nama ini dipilih? Siapa sebenarnya Sripohaci? Apakah sekadar nama cantik, atau ada cerita besar yang sengaja disimpan dalam ingatan kota?
Dari situ, Mimin mulai menelusuri jejak sejarah dan mitologi yang ternyata jauh lebih dalam daripada yang terlihat di permukaan.
Nyi Sripohaci, Sosok Suci dalam Mitologi Sunda
Bagi masyarakat Sunda, nama Nyi Sripohaci atau Sanghyang Asri bukan nama asing. Ia adalah sosok yang sangat dimuliakan sejak ratusan tahun lalu.
Dalam kepercayaan tradisional Sunda, Nyi Sripohaci dikenal sebagai Dewi Padi dan Dewi Kesuburan, penjaga kehidupan, dan lambang kemakmuran.
Kehadirannya dipercaya mengatur keseimbangan alam, hasil bumi, hingga keberlangsungan hidup manusia.
Mimin menemukan bahwa peran Nyi Sripohaci nggak bisa dipisahkan dari kehidupan agraris masyarakat Sunda zaman dulu.
Padi bukan sekadar makanan pokok, tapi sumber kehidupan. Maka, Dewi Padi pun ditempatkan di posisi paling luhur.
Setiap panen, setiap nasi yang tersaji di piring, selalu ada doa dan rasa hormat yang menyertainya. Bahkan sampai hari ini, sisa kepercayaan itu masih hidup.
Banyak orang tua Sunda yang menasihati anaknya agar menghabiskan nasi, karena menyia-nyiakan nasi dianggap sebagai bentuk nggak menghormati sumber kehidupan.
Lebih dari itu, Nyi Sripohaci juga dipercaya sebagai pengatur kemakmuran dan kekayaan alam. Artinya, beliau bukan hanya berkaitan dengan sawah dan ladang, tapi juga dengan kesejahteraan hidup manusia secara keseluruhan.
Kalau alam dijaga, kehidupan akan seimbang. Tapi kalau alam dirusak, bencana dan kesulitan akan datang. Nilai ini tertanam kuat dalam budaya Sunda dan diwariskan lewat cerita, petuah, hingga ritual adat.
Menariknya, Nyi Sripohaci nggak digambarkan sebagai dewi yang jauh dan menakutkan. Ia justru hadir sebagai sosok keibuan, lembut, dan penuh kasih.
Di sinilah letak kedalaman filosofi Sunda: menghormati alam bukan dengan rasa takut, tapi dengan rasa syukur dan tanggung jawab.
Alam dianggap sebagai ibu yang memberi kehidupan, bukan objek yang bebas dieksploitasi.
Legenda Putri Khayangan dan Lahirnya Sumber Kehidupan
Cerita tentang Nyi Sripohaci semakin dalam ketika Mimin menelusuri legenda asal-usulnya. Dalam kisah yang diwariskan secara turun-temurun, Nyi Pohaci diceritakan sebagai putri khayangan yang sangat cantik jelita.
Kecantikannya bukan hanya soal rupa, tapi juga kesucian dan kebaikan hatinya. Ia digambarkan sebagai makhluk suci yang membawa kesejukan dan ketentraman di mana pun ia berada.
Namun, seperti banyak kisah legenda Nusantara lainnya, ceritanya berujung tragis. Nyi Pohaci turun ke bumi dan akhirnya meninggal dunia.
Tapi kematiannya justru menjadi awal kehidupan bagi manusia. Dari jasadnya yang suci, tumbuh berbagai tanaman yang menjadi penopang hidup umat manusia.
Rambutnya menjelma pepohonan, anggota tubuhnya menjadi sayuran dan buah-buahan, dan yang paling sakral, tanaman padi dipercaya tumbuh dari kedua matanya.
Di titik ini, Mimin benar-benar paham kenapa masyarakat Sunda begitu menghormati nasi. Setiap butir nasi bukan sekadar karbohidrat atau pengganjal lapar, tapi simbol pengorbanan, kehidupan, dan hubungan manusia dengan alam.
Menghabiskan nasi bukan soal adab makan semata, tapi bentuk penghormatan terhadap Dewi Sri yang telah memberikan dirinya demi kehidupan manusia.
Legenda ini juga mengajarkan filosofi penting,yaitu kehidupan selalu lahir dari pengorbanan. Alam memberi tanpa meminta imbalan, tapi manusia punya kewajiban moral untuk menjaga dan merawatnya.
Kalau alam dirusak, keseimbangan akan hilang. Pesan ini terasa sangat relevan di tengah kondisi lingkungan hari ini, saat manusia sering lupa batas dalam mengeksploitasi alam demi keuntungan sesaat.
Bagi Mimin, legenda Nyi Sripohaci bukan cerita kuno yang usang. Justru sebaliknya, kisah ini seperti pengingat halus bahwa kearifan lokal punya pesan besar yang masih sangat relevan dengan kehidupan modern.
Jalan Sripohaci, Jejak Budaya di Tengah Kota Bandung
Ketika nama Sripohaci diabadikan menjadi nama jalan di Bandung, Mimin melihatnya bukan sebagai kebetulan.
Penamaan jalan sering kali menjadi cara halus sebuah kota untuk menjaga ingatan kolektif warganya.
Di tengah modernisasi, gedung tinggi, dan ritme hidup yang serba cepat, nama Jalan Sripohaci seolah menjadi pengingat bahwa Bandung punya akar budaya yang kuat.
Jalan ini terletak di kawasan Jalan Moh Ramdan dan Jalan BKR, Kota Bandung, wilayah yang cukup strategis dan dilewati aktivitas warga setiap hari.
Buat orang yang sering melintas, mungkin nama Jalan Sripohaci hanya dianggap sebagai penunjuk arah.
Tapi kalau ditelusuri lebih dalam, nama ini membawa pesan besar tentang hubungan manusia dengan alam dan nilai kesuburan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Sunda.
Setiap papan nama jalan seolah menyimpan cerita yang menunggu untuk dibaca, bukan dengan mata, tapi dengan rasa ingin tahu.
Bandung sendiri dikenal sebagai kota yang kaya akan sejarah dan budaya. Dari nama jalan, bangunan tua, hingga cerita rakyat, semuanya membentuk identitas kota ini.
Dengan mempertahankan nama Sripohaci, Bandung secara nggak langsung ikut melestarikan mitologi Sunda agar tetap hidup di tengah generasi yang mungkin sudah jarang mendengar cerita Dewi Sri secara utuh.
Mimin merasa, pelestarian budaya nggak selalu harus lewat museum besar atau upacara adat yang rumit.
Kadang, cukup lewat papan nama jalan yang setiap hari kita lewati. Tinggal kitanya saja, mau peduli atau terus berlalu tanpa pernah bertanya.
Jalan Sripohaci adalah contoh kecil bagaimana sebuah kota bisa menyimpan cerita besar di balik kesederhanaannya.



Terima kasih atas kunjungannya, silakan tinggalkan jejak di kolom komentar