Tradisi Gusaran, Ritual Meratakan Gigi Anak Perempuan Agar Lebih Rapi dan Cantik

Tradisi Gusaran, Ritual Meratakan Gigi Anak Perempuan
Ritual gusaran untuk meratakan gigi anak perempuan.

Tradisi Gusaran, Ritual Meratakan Gigi Anak Perempuan Agar Lebih Rapi dan Cantik - Dalam adat dan budaya Sunda, gusaran muncul sebagai salah satu tradisi yang dilakukan sebagai pengganti khitan untuk anak perempuan. Gusaran menandai momen penting dalam pertumbuhan anak perempuan dengan meratakan gigi-gigi mereka menggunakan alat khusus atau secara simbolis dengan menggosokkan uang benggol (sebuah uang logam kuno yang terbuat dari tembaga). 


Ritual gusaran dilakukan ketika anak perempuan telah mencapai usia tujuh atau delapam tahun. Ritual ini memiliki makna yang sangat dalam, baik dari segi logika maupun mistis.


Secara logika, makna dari Gusaran adalah untuk menghilangkan runcingnya gigi susu pada anak perempuan. Gigi susu yang runcing dianggap sebagai tanda pertumbuhan gigi yang tidak rata, yang bisa memengaruhi penampilan. Oleh karena itu, upacara ini menjadi cara untuk memastikan gigi anak perempuan akan bertambah cantik dan rata.


Sedangkan dari sisi mistis, bagi masyarakat yang menganut kepercayaan tertentu, Gusaran dilakukan dengan tujuan mencari keselamatan diri atau tolak bala. Ritual ini menjadi sarana untuk memohon perlindungan dari berbagai energi negatif atau bahaya yang mungkin mengancam anak perempuan yang tengah mengalami masa pertumbuhan.


Hajatan Gusaran


Pelaksanaan Gusaran seringkali disertai dengan hajatan yang cukup mewah. Tingkat kemewahan acara ini sering kali bergantung pada kemampuan ekonomi keluarga yang melaksanakannya. Jika keluarga mampu secara finansial, acara ini bisa diramaikan dengan berbagai hiburan seperti wayang golek, musik tradisional seperti rempak gendang, atau tarian seperti jaipong. 


Semua ini menambah nuansa kegembiraan dalam acara yang sekaligus merupakan ekspresi dari kekayaan budaya lokal. Meskipun kemewahan acara Gusaran bisa menjadi bagian yang menyenangkan, kita tidak boleh melupakan makna dan tujuan sejati dari ritual ini, yang melibatkan keseimbangan antara logika dan mistisisme, serta penghormatan terhadap tradisi nenek moyang.


Prosesi Ritual Gusaran


Prosesi gusaran yang pertama dilakukan adalah si anak perempuan tersebut didandani agar terlihat cantik, kemudian didudukkan bersama para tamu undangan yang hadir.


Pemimpin acara kemudian membacakan do'a dan sholawat sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi. Ritual kemudian dilanjutkan oleh tokoh yang bertanggung jawab dalam melaksanakan gusaran, biasanya disebut Indung Beurang atau Paraji.


Mereka melaksanakan ritual dengan menggunakan alat khusus atau koin benggol/uang kuno yang digunakan untuk merapikan ujung gigi sang anak perempuan agar lebih rapi dan cantik.


Ritual gusaran memiliki makna yang dalam dalam budaya setempat. Tujuan utamanya adalah tidak sekadar untuk menciptakan kecantikan fisik semata, melainkan sebagai perlambang pentingnya menjaga kebersihan, kesehatan, dan perilaku yang baik.


Menggusar gigi anak perempuan dimaknai sebagai cara untuk mengajarkan pentingnya kehati-hatian dalam bertutur kata. Bersihnya gigi juga dipercaya sebagai simbol kesehatan dan kebersihan secara keseluruhan. Tidak hanya itu, tetapi ritual ini juga mengandung pesan terkait kehati-hatian dalam memilih makanan dan minuman, agar tubuh tetap sehat dan terhindar dari penyakit.


Sawer Pengantin Gusaran


Setelah prosesi gusaran selesai, kemudian dilakukan ritual sawer. Ritual ini sama persis seperti sawer pangantin yaitu diiringi dengan kidung Sunda yang liriknya penuh dengan petuah. 


Nyawer adalah menaburkan uang di atas pengantin gusaran yang bernaung di bawah payung. Dalam sebuah wadah khusus yang disiapkan untuk nyawer, terdapat campuran uang logam, beras, dan permen. 


Penaburan saweran tersebut dilakukan oleh seorang sesepuh yang dihormati sebagai tokoh yang paling tua dalam lingkungan keluarga. Uang saweran dan permen tersebut akan di ambil secara berebutan oleh anak-anak bahkan sampai orang tua yang hadir di acara gusaran.


Makna dari sawer tersebut adalah agar hidup anak yang digusar akan dilingkupi keberkahan, cukup uang, cukup makan yang intinya itu serba kecukupan. Setelah selesai prosesi sawer pengantin gusaran, para undangan yang hadir dipersilakan menikmati santapan makan yang sudah disediakan oleh tuan rumah atau yang punya hajat.


Kebudayaan gusaran ini sangat berarti untuk masyarakat sunda yang memegang teguh adat istiadatnya karena gusaran adalah titik baligh bagi anak-anak sunda yang melakukan gusaran. namun, perlahan tapi pasti, nilai-nilai kebudayaan gusaran semakin memudar di tengah zaman modern.


Tentunya hal tersebut mengundang kekhawatiran akan hilangnya pemahaman generasi mendatang. Anak dan cucu masyarakat Sunda mungkin tidak akan mengenali lagi warisan budaya yang telah dijaga sejak zaman nenek moyang.


Baca juga : Ngarupus, Syukuran Kelahiran Bayi Dalam Adat Sunda di Kabupaten Kuningan

Terima kasih atas kunjungannya, silakan tinggalkan jejak di kolom komentar