30 January 2020

Kenali dan Tangani Kanker Kolorektal Sejak Dini

Sosialisasi gejala dan penanganan kanker kolorektal
Sosialisasi gejala dan penanganan kanker kolorektal. 
Kenali dan Tangani Kanker Kolorektal Sejak Dini - Kanker adalah penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi sel kanker. Dalam perkembangannya, sel-sel kanker ini dapat menyebar dan merusak sel-sel sehat di dalam tubuh sehingga dapat menyebabkan kematian.

Kanker sering menyebabkan kematian karena umumnya penyakit ini tidak menimbulkan gejala pada awal perkembangannya. Penyakit mematikan ini biasanya baru terdeteksi dan diobati setelah mencapai stadium lanjut.

Penyakit kanker dapat menimpa semua orang dan semua gologan umur. Namun kanker lebih sering menimpa orang lanjut usia. Berdasarkan hasil survei global terhadap tren kesehatan yang dilaksanakan selama satu dekade, kanker telah menjadi penyebab kematian nomor satu di seluruh dunia.

Menurut catatan Kementerian Kesehatan, di negara Indonesia kanker menjadi penyebab kematian ketiga terbanyak setelah jantung dan stroke. Dalam sepuluh tahun terakhir, masyarakat yang menderita penyakit kanker bertambah banyak dua kali lipat.

Berdasarkan data Global Cancer Observatory (Globocan) 2018, kanker payudara menjadi yang paling banyak diderita masyarakat Indonesia, lalu diikuti oleh kanker serviks, kanker paru, kanker kolorektal (kanker usus besar), dan kanker hati.

Di Jawa Barat, masyarakat yang menderita penyakit kanker bertambah banyak dua kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir. Dari data yang tercatat di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2017, sebanyak 21 dari 100.000 orang di Jawa Barat diprediksi menderita penyakit kanker.

Di antara sejumlah kasus kanker tersebut, kanker kolorektal adalah jenis penyakit kanker yang tidak banyak diketahui masyarakat umum. Gejala kanker usus besar ini tersamarkan oleh penyakit lain yang lebih umum.

Kanker kolorektal
Kanker kolorektal 

Kanker Kolorektal

Kanker kolorektal adalah jenis kanker yang tumbuh pada usus besar (kolon), atau pada bagian paling bawah dari usus besar yang terhubung ke anus (rektum). Kanker ini juga dikenal dengan sebutan kanker kolon atau kanker rektum, tergantung pada lokasi tumbuhnya kanker.

Gejala kanker kolorektal seringkali dirasakan oleh pasien ketika kanker sudah berkembang jauh. Pada Survei Globocan 2018, kanker kolorektal adalah kanker nomor dua paling banyak diidap oleh pria setelah kanker paru di Indonesia. Namun di Singapura, kanker kolorektal dideteksi merupakan kanker yang paling umum ditemukan pada perempuan.

Sebagian besar kanker kolorektal bermula dari polip usus atau jaringan yang tumbuh di dinding dalam kolon atau rektum. Namun, tidak semua polip akan berkembang menjadi kanker kolorektal. Kemungkinan polip berubah menjadi kanker juga tergantung kepada jenis polip itu sendiri.

Seperti kanker pada umumnya, kanker usus besar sulit dideteksi pada tahap dini karena gejalanya yang tak banyak dirasakan. Pada tahap awal perkembangannya, kanker kolorektal mungkin tidak menyebabkan gejala apapun. Ketika kanker dalam usus ini tumbuh atau menyebar, gejala-gejala yang dirasakan lebih bervariasi sesuai dengan ukuran dan lokasi kanker.

Berikut ini gejala umum yang dapat dirasakan oleh penderita kanker kolorektal:

  • Muncul darah dalam tinja.
  • Kebiasaan buang air besar yang berubah-ubah.
  • Rasa sakit yang terus-menerus di perut.
  • Perut kembung atau kram.
  • Perasaan saat buang air besar tidak dikosongkan sepenuhnya.
  • Berat badan turun drastis.

Tapi, gejala seperti di atas  tidak semuanya disebabkan oleh kanker. Kondisi kesehatan lain pun dapat menimbulkan gejala yang sama.

Sekedar mengingatkan, kanker pada tahap awal umumnya tidak menimbulkan rasa sakit. Karena itu bagi siapa saja yang merasa mengalami gejala tersebut, disarankan untuk segera menemui dokter untuk melakukan diagnosa dan menerima pengobatan sesegera mungkin.

Dalam penanganannya, kanker kolorektal sebenarnya dapat didiagnosis melalui skrining. Tes skrining akan membantu dokter untuk menemukan polip atau kanker sebelum Anda terkena gejala kanker.

Salah satu cara penanganan kanker kolon adalah dengan pemeriksaan tinja ataupun kolonoskopi. Kolonoskopi melibatkan penggunaan tabung tipis dan fleksibel yang dikenal dengan nama kolonoskop.

Alat tersebut dimasukkan melalui dubur sehingga memungkinkan dokter untuk memeriksa lapisan dalam usus besar. Biasanya dilakukan dengan sedasi ringan, kolonoskopi membutuhkan waktu sekitar 15 menit.

Penanganan Kanker Kolorektal Sejak Dini

Sadar akan pentingnya masyarakat memahami bahaya kanker kolorektal,  Parkway Cancer Centre dan CanHope Bandung menggelar sosialisasi gejala dan penanganan kanker kolorektal, pada  Kamis (30/01/2020)  di CGV 23 Paskal, Jalan Pasir Kaliki, Bandung.

Parkway Cancer Center (PCC) adalah institusi kesehatan dengan rangkaian perawatan kanker komprehensif, yang diberikan melalui konsultan spesialis medis, suster, konselor serta tenaga paramedis profesional lainnya. Sedangkan CanHOPE adalah badan non-profit yang bergerak di bidang layanan konseling dan dukungan terhadap penderita kanker yang diprakarsai oleh Parkway Cancer Centre.

Talkshow sosialisasi kanker usus besar ini menghadirkan narasumber yang berkompeten di bidangnya yaitu Manager CanHope Bandung, Risma Yanti. Karena narasumber utama Dr Zee Yin Kiat (Senior Consultant Medical Oncology Parkway Cancer Centre) berhalangan datang, diskusi dilakukan secara online melalui video call.

Dr Zee Yin Kiat mengatakan bahwa dengan pendeteksian secara dini, kanker usus besar dapat diobati. Perkembangan kanker kolorektal yang terjadi di usus besar atau dubur relatif lambat. Diperlukan waktu bertahun - tahun untuk berkembang. Oleh karena itu kanker usus besar dapat dideteksi dan diobati sejak dini.

Menurut beliau, biasanya kanker kolorektal dimulai sebagai jaringan dengan pertumbuhan jinak yang disebut polip pada lapisan dalam usus besar atau rektum. Meskipun polip tidak bersifat kanker, mereka dapat berkembang menjadi kanker dalam jangka waktu yang lama. Faktanya, sebagian besar kanker kolorektal berkembang dari polip.

Keberadaan polip cukup umum, 1 dari 4 orang memiliki setidaknya satu pada usia 50. Namun, hanya sebagian kecil polip yang berkembang menjadi kanker dan itu pun butuh bertahun-tahun. Polip dengan lebar 1 cm memiliki peluang 1:6 tumbuh menjadi kanker lebih dari 10 tahun.

Selain tergantung pada jenis polip, ada beberapa faktor yang bisa memengaruhi perubahan polip menjadi kanker kolorektal, seperti ukuran polip yang lebih besar dari 1 cm, terdapat lebih dari 2 polip di kolon atau rektum, atau bila ditemukan displasia (sel abnormal) setelah polip diangkat.

Diagnosis dan pengobatan kanker kolorektal sedini mungkin akan meningkatkan kemungkinan sembuh pada penderita. Namun jika kanker sudah berkembang pada stadium lanjut, langkah pengobatan akan dilakukan untuk mencegah penyebaran sekaligus meringankan gejala yang dialami oleh penderita kanker usus besar.

Sama seperti pada jenis kanker lainnya, pengobatan kanker kolorektal meliputi bedah, kemoterapi, terapi kanker terarah, dan radioterapi.

Pembedahan
Bedah melibatkan pengangkatan jaringan yang terjangkit tumor dan jaringan terdekat/ kelenjar getah bening. Prosedur bedah dilakukan dengan menggunakan laparoskopi atau bedah terbuka.

Kemoterapi
Kemoterapi menggunakan obat-obatan anti kanker guna menyusutkan ukuran atau membunuh sel kanker. Obat-obatan masuk melalui aliran darah sehingga dapat mencapai sel kanker di seluruh tubuh.

Terapi Kanker Terarah
Beberapa pasien dengan kanker kolorektal yang telah menyebar menerima pengobatan kanker terarah. Terapi terarah ini berupa obat-obatan atau bahan lain yang berfungsi untuk menghambat pertumbuhan dan penyebaran sel kanker dengan mentargetkan molekul-molekul spesifik yang membantu pertumbuhan dan penyebaran sebuah tumor.

Radioterapi
Prosedur ini menggunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel kanker. Terapi radiasi hanya mempengaruhi sel kanker yang ada pada area terapi.

Namun, berkat kemajuan ilmu kedokteran, kini dokter telah mampu menawarkan metode pengobatan yang lebih efisien untuk pasien kanker usus besar.

Sejak 2007, terapi bertarget oral diperkenalkan oleh Parkway Cancer Centre, Singapura. Perawatan ini melihat peningkatan dalam tingkat respons dari 10 persen menjadi 30 persen. Terapi bertarget oral melihat efek samping yang lebih mudah dikelola dari obat-obatan yang dikonsumsi secara oral oleh pasien.

Terapi tersebut kini menjadi standar perawatan di Parkway Cancer Centre. Tentu saja, terlepas dari deteksi dini dan upaya pengobatan lainnya, gaya hidup sehat dipercaya dapat mengurangi risiko terkena kanker kolorektal.

Segera periksakan diri ke dokter bila muncul gejala penyakit kanker kolorektal. Pada tahap awal, gejala kanker kolorektal sering tidak terasa. Karena itu, pemeriksaan secara rutin harus kita dilakukan untuk berjaga-jaga. Jangan lupa terapkan pola hidup sehat dengan cara kurangi mengkonsumsi daging merah, perbanyak mengkonsumsi makanan berserat dan berolahraga.

Baca juga Luka Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Inilah Penyebabnya

Terima kasih atas kunjungannya, silakan tinggalkan jejak di kolom komentar