22 June 2019

Penerbangan Maskapai Jet Domestik Segera Beroperasi di Bandara Kertajati Majalengka

Diskusi Era Baru Industri Aviasi di Tanah Pasundan
Diskusi Era Baru Industri Aviasi di Tanah Pasundan
Penerbangan Maskapai Jet Domestik Segera Beroperasi di Bandara Kertajati Majalengka - Bandara Kertajati atau Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) merupakan bandar udara terbesar kedua di Indonesia setelah Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta.

Sejak awal pembangunan sampai dinyatakan resmi beroperasi pada tanggal 24 Mei 2018 lalu, bandara internasional tersebut dianggap sangat strategis untuk mendongkrak perekonomian dari mobilitas arus masuk-keluar orang dari berbagai daerah di Indonesia, maupun luar negeri.

Pembangunan Bandara Kertajati dilakukan dalam tiga tahap. Saat ini pembangunan bandara tersebut baru masuk tahap pertama atau baru sepertiganya, dengan luas terminal mencapai 96.000 meter persegi dan berkapasitas penumpang 5 juta-12 juta penumpang pertahun.

Pada tahap ultimate nanti Bandara Kertajati akan diperluas hingga 209.151 meter persegi. Terminal akan memiliki daya tampung sekitar 29,3 juta pertahun. Pengembangan bandara ini sendiri dimulai sejak 2016 dan diproyeksikan akan rampung pada 2036.

Namun bandara yang megah dan berskala internasional ini ternyata masih belum bisa menarik minat pengunjung/penumpang dengan alasan akses transportasi masih susah dijangkau. Belum beroperasinya tol Cisumdawu jadi salah satu penyebab calon penumpang harus menempuh perjalanan darat yang cukup jauh.

Sangat disayangkan, bandara yang dibangun dengan anggaran miliaran rupiah ini belum bisa beroperasi secara maksimal. Bahkan bisa dikatakan sepi penumpang.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Kementerian Perhubungan memutuskan untuk mengalihkan penerbangan komersial pesawat jenis jet dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung ke Bandara Kertajati, Majalengka.

Pengalihan Penerbangan dari Bandara Husein Satra Negara ke Bandara Kertajati

PT Angkasa Pura II (Persero) atau AP II menyatakan kesiapannya melayani perpindahan penerbangan maskapai jet domestik tersebut. Sesuai rencana, perpindahan 56 penerbangan yang meliputi 13 rute domestik ke Bandara Internasional Jawa Barat tersebut akan dimulai pada 1 Juli 2019 mendatang.

Berikut ini daftar 13 rute penerbangan Bandara Internasional Jawa Barat
1. Balikpapan.
2. Lombok.
3. Pontianak.
4. Denpasar.
5. Padang.
6. Makasar.
7. Surabaya.
8 Medan.
9. Banjarmasin.
10. Batam.
11. Palembang.
12. Pekanbaru.
13. Yogyakarta.

Sesuai instruksi dari Kementerian Perhubungan, pihak Angkasa Pura II tidak akan mengalihkan seluruh penerbangan komersial dari Bandara Husein Sastranegara ke Bandara Kertajati. Namun hanya akan memindahkan penerbangan domestik bermesin jet.

Sedangkan penerbangan internasional masih  dilakukan di Bandara Husein Sastranegara, karena mempertimbangkan kelangsungan bisnis pariwisata di Bandung.

Berikut ini nama lima maskapai penerbangan domestik bermesin jet yang akan beroperasi di Bandara Kertajati Majalengka.
1. Garuda Indonesia.
2. Air Asia.
3. Citilink.
4. Lion Air.
5. Xpress Air

Dengan beroperasinya kembali Bandara Kertajati ini diharapkan akan menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi dan pariwisata daerah-daerah di Jawa Barat secara keseluruhan.

Tapi tidak semudah itu, pemindahan penerbangan dari Bandung ke Majalengka menuai kritik pedas dari beerbagai kalangan.

FGD Era Baru Industri Aviasi di Tanah Pasundan
FGD Era Baru Industri Aviasi di Tanah Pasundan
Untuk menyikapi isu yang beredar di masyarakat tersebut, Komunitas Masyarakat Pecinta Aviasi menggelar Focus Group Discussion berjudul "Era Baru Industri Aviasi di Tanah Pasundan" yang diselenggarakan di Grand Ballroom Hotel Grand Mercure Setiabudi, Bandung, Sabtu, 22 Juni 2019.

Forum diskusi ini menghadirkan narasumber yang berkompeten di bidangnya, di antaranya Muhammad Awaluddin (President Director AP II), Djoko Murjatmodjo (Director of Engineering & Operation AP II), M. Pramintohadi (Direktur Bandar Udara Kementerian Perhubungan), Agus Taufik Mulyono (Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia), Andreas Wijanto (Sekretaris Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat), Gerry Soejatman (Pengamat Penerbangan), dan Yayan Satyakti (Akademisi Universitas Padjadjaran).

Agus Taufik Mulyono meminta seluruh masyarakat untuk tidak mencibir kebijakan pembangunan Bandara Kertajati. Jangan hanya mencaci-maki, tetapi seharusnya cari solusi.

Suka atau tidak suka, relokasi penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara ke Bandara Kertajati memang harus dilakukan.

Jangan hanya melihat kepentingan Bandung. Dengan pemindahan penerbangan tersebut pariwisata Kota Kembang tidak akan mati karena sudah dikenal sebagai kota Pendidikan dan wisata kuliner.

Dengan pemindahan ini, Jawa Barat diharapkan memiliki diferensiasi pasar penumpang udara yang unik agar international exposure-nya benar bisa menjual letak geografis dari Bandara Kertajati.

Kapan lagi masyarakat Jawa Barat punya kebanggaan dengan memiliki bandara besar berskala internasional kalau tidak sekarang.

Terkait kendala yang dihadapi penumpang pesawat yang harus melalui perjalanan darat cukup jauh menuju Bandara Kertajati. Hal tersebut bisa diselesaikan dengan menyediakan angkutan shuttle bus yang andal dan menambah simpul pemberangkatan ke Bandara Kertajati dari Bandung maupun kota-kota lain di sekitarnya. Dan tidak kalah penting lagi, angkutan itu harus bersubsidi agar masyarakat bisa tertarik menggunakannya.

Jalan keluar berikutnya, Pemerintah harus mempercepat pembangunan tol Cisumdawu. Karena dengan beroperasinya tol tersebut, waktu tempuh penumpang dari kota-kota di sekitar Bandara Kertajati menjadi lebih cepat.

Untuk mempermudah akses ke bandara, pihak  Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga telah menyediakan 19 operator bus dan 167 armada angkutan umum yang siap melayani transportasi darat dari dan menuju Bandara Kertajati menuju Bandung, Cirebon, Majalengka, Kuningan, Tasikmalaya, Cikarang, Indramayu, Purwakarta, dan Sumedang.

Baca juga Kejuaraan Binaraga Antar Jebor di Majalengka

Terimakasih atas kunjungannya, silahkan tinggalkan jejak di kolom komentar