23 January 2019

Siswa Kelas 7 SMPN 2 Cipatat Belajar Sejarah Manusia Purba di Guha Pawon

Siswa Kelas 7 SMPN 2 Cipatat Belajar Sejarah Manusia Purba di Guha Pawon
Siswa Kelas 7 SMPN 2 Cipatat sedang menyimak penjelasan dari Kang Hendi selaku guide Guha Pawon. 
Jalan kaki merupakan olahraga paling murah namun memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Di zaman sekarang ini orang dimanjakan dengan kemudahan transportasi, sehingga waktu untuk berjalan kaki sudah semakin berkurang.

Apa lagi untuk kalangan remaja perkotaan. Jalan kaki dengan jarak yang cukup jauh sudah sangat jarang, bahkan tidak pernah dilakukan. Ke mana-mana lebih memilih naik kendaraan, dengan alasan supaya tidak capek dan menghemat waktu.

Siswa Siswi Kelas 7 SMPN 2 Cipatat, Kab. Bandung Barat
Siswa Siswi Kelas 7 SMPN 2 Cipatat mengikuti outing class di Guha Pawon.
Kalaupun ada yang berjalan kaki, mereka adalah remaja pecinta alam dan pendaki gunung. Itu pun biasanya dari kalangan mahasiswa. Lalu masih adakah anak remaja yang mau berjalan kaki dengan jarak cukup jauh dan memakan waktu berjam-jam?

Jawabannya masih ada.

Rabu 23 Januari 2019, 249 siswa SMP Negeri 2 Cipatat melaksanakan kunjungan ke situs Guha Pawon yang beralamat di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. 

Para pelajar kelas VII ini sengaja datang untuk mengenal lebih jauh fosil manusia purba yang pernah jadi penghuni gua tersebut ribuan tahun lalu.

Mereka mereka berjalan kaki selama dua jam. Ini sebuah perjalanan panjang yang sangat melelahkan untuk anak-anak seusia mereka. Namun siswa-siswi tangguh ini tetap semangat melangkah sampai ke tempat tujuan. 

Kepala Sekolah dan Guru SMPN 2 Citatah
Kepala Sekolah dan Guru SMPN 2 Citatah saat foto bersama di area Guha Pawon
Kepala Sekolah SMPN 2 Cipatat, Husein Yuhana, S. Pd., M. Pd. mengatakan anak-anak sangat senang dan gembira diajak ke Guha Pawon karena mereka bisa terlepas dari ruangan sekolah dan berada di alam yang bebas.

Mereka bisa bersosialisasi serta mendapatkan pelajaran yang kooperatif, yaitu pelajaran yang menekankan pada kerja sama. Anak-anak ditugaskan untuk menyusun laporan dan mendeskripsikan apa yang mereka lihat dan apa  terima dari pemandu.

Kenapa memilih Guha Pawon untuk outing class?

Situs bersejarah ini yang terdekat dari lokasi sekolah, sehingga bisa ditempuh dengan berjalan kaki sambil berolahraga. Tidak memerlukan banyak biaya, dan yang paling penting supaya mereka ikut memelihara cagar budaya yang ada di wilayahnya. Ini adalah situs budaya dan keraifan lokal yang tidak bisa dinilai dengan uang dan wajib dipelihara secara turun-temurun. 

"Outing class ini mengajarkan anak-anak untuk mencintai daerahnya. Kalau tidak diajarkan sejak kecil, mereka bisa terpengaruh oleh orang-orang yang akan mengeksploitasi situs bersejarah ini untuk kepentingan bisnis atau materi," pungkas Husein Yuhana.

Belajar Sejarah Fosil Manusia Purba Penghuni Guha Pawon


Di lokasi situs bersejarah ini siswa-siswi SMPN 2 Cipatat diajak melihat dan mengenal fosil manusia purba secara langsung. Mereka dipandu oleh Pak Hendi selaku guide Guha Pawon.

Hendi menjelaskan, dahulunya gunung yang ada di kawasan Cipatat adalah laut paling dangkal. Antara 27 hingga 32 tahun juta tahun ke belakang gunung ini tergenang air laut. Pada saat itu terjadi gempa tektonik yang mengakibatkan air laut menjadi surut dan sebagian dasar laut berubah menjadi daratan.

Tebing batu yang ada di kawasan Guha Pawon ini berjenis batu kapur (karst) berwarna putih. Gunung batu kapur ini dulunya merupakan tempat berkembangnya terumbu karang dan makhluk- makhluk laut lainnya.

Salah satu bukti di kawasan ini awalnya lautan adalah terdapatnya terumbu karang dan fosil hewan laut yang menempel di bebatuan.

Fosil Manusia Guha Pawon
Fosil Manusia Guha Pawon
Tahun 2003 peneliti dari Balai Arkeologi Bandung bersama Doktor Lutfriandri berhasil menemukan 4 kerangka manusia. Pada tahun  2017 ditemukan kembali 3 kerangka.

Hingga saat ini total penemuan kerangka manusia purba di Guha Pawon adalah 7 kerangka. Ketujuh kerangka manusia purba tersebut  masuk ke dalam ras Mongoloid.

Manusia purba pada zaman mesolitikum itu hidup di alam terbuka, tetapi sudah mengenal tempat tertutup seperti gua. Contohnya adanya gua. Kerangka manusia yang ditemukan pada tahun 2003 ini diperkirakan berasal dari 7300 sampai 9500 tahun yang lalu.

Sedangkan yang ditemukan kerangka manusia purba tahun 2017 ini usianya diperkirakan 10 ribu sampai 12 ribu tahun ke belakang. Umur manusia purba penghuni Guha Pawon diperkirakan mulai dari 0 sampai 30 tahun. Pada masa itu usia 30 tahun sudah tua dan meninggal dunia, kemudian dikuburkan di dalam gua. 

Fosil manusia purba yang ada di Guha Pawon dikubur dalam keadaan terlipat/dilipat. Ini membuktikan bahwa manusia prasejarah ini sudah  mengenal budaya.

Kenapa dikuburnya dilipat?

Itu adalah salah satu budaya yang mereka miliki. Manusia Guha Pawon memiliki keyakinan setiap manusia pernah mengalami berada dalam kandungan sang ibu. Ketika dalam kandungan, posisi bayi seperti dilipat.

Tradisi penguburan jenazah seperti ini bukan hanya di Guha Pawon, atau bukan hanya di Jawa Barat. Di beberapa gua lain di Indonesia pernah juga ditemukan kuburan manusia purba dalam posisi tubuh seperti dilipat. Contohnya di Goa Sodong, Goa Lawa, dan Goa Marjan. 

Dengan adanya kesamaan dari beberapa penemuan kerangka manusia purba ini, semua kalangan akhirnya menerima bahwa mereka sudah mengenal tradisi penguburan mayat. Tempat yang digunakan untuk penguburan adalah tempat yang jarang dilalui dan tidak terlalu gelap.

Salah satu kerangka manusia Guha Pawon ini ditemukan dalam keadaan kumplet dengan pendukungnya, termasuk dengan perkakasnya. Di sini ditemukan alat pukul dari jenis batu dan perkutor (alat pukul batu yang bisa digunakan untuk meramu zat pewarna bila ada upacara penguburan).

Zat pewarna ini dibuat dengan cara ditumbuk dan dihaluskan. Bahan pewarna ditaruh di atas batu kemudian ditumbuk menggunakan perkutor. Setelah bahan pewarna tersebut selesai diracik kemudian dilulurkan atau dibalurkan ke tubuh mayat. Jadi, perkutor ini ada kaitannya dengan tata cara penguburan dan merias mayat.

Manusia Guha Pawon melakukan penjelajahan dari tempat terdekat sampai ke tempat terjauh. Contohnya di Garut, tepatnya di Gunung Kendan banyak ditemukan obsidian.

Batu obsidian ini dikenal sebagai gelas Gunung Merapi dengan kekerasan 6 sampai 7 skala Mohs. Karena batu ini sangat keras, maka mereka menjadikannya sebagai perkakas. Batu obsidian yang didapatkan di Garut ini kemudian dibawa ke Guha Pawon untuk diolah menjadi perkakas seperti pisau, alat serut, dan mata panah untuk berburu.

Manusia purba Guha Pawon juga sudah mengenal api. Mereka menyalakan api dengan menggosok-gosokkan dua buah batu. Tapi api ini bukan digunakan untuk memasak, melainkan hanya untuk menghangatkan tubuh.

Terimakasih atas kunjungannya, silahkan tinggalkan jejak di kolom komentar