Asep Sunandar Sunarya, Maestro Dalang Wayang Golek yang Membuat Cepot Makin Dicintai

 

Asep Sunandar Sunarya


Asep Sunandar Sunarya, Maestro Dalang Wayang Golek yang Membuat Cepot Makin Dicintai -Dulu, kalau ada suara gamelan Sunda terdengar dari kejauhan, rasanya kita sudah tahu ada sesuatu yang sedang berlangsung.

Apalagi kalau malam hari, dari sebuah halaman rumah atau lapangan kampung terdengar suara sinden, kendang, kecrek, kemudian diselingi suara dalang yang sedang memainkan wayang.

Buat sebagian orang Sunda, wayang golek bukan sekadar pertunjukan, melainkan bagian dari kenangan masa kecil.

Mimin masih ingat bagaimana pertunjukan wayang golek dulu sering hadir dalam acara hajatan, khitanan, syukuran, sampai perayaan tertentu.

Orang-orang datang bukan hanya untuk melihat cerita Mahabharata atau Ramayana, tetapi juga menunggu satu hal yang sering membuat suasana semakin ramai, yaitu hadirnya sosok Cepot.

Begitu tokoh berwajah merah itu muncul, suasana yang tadinya serius bisa berubah menjadi penuh tawa.

Kadang Cepot ngomong seenaknya. Kadang mengejek tokoh lain. Kadang membawa persoalan kehidupan sehari-hari ke dalam cerita wayang. Justru di situlah menariknya.

Dan ketika membicarakan Cepot serta perkembangan wayang golek Sunda yang semakin dikenal luas, ada satu nama yang rasanya sulit dilewatkan, ialah Asep Sunandar Sunarya.

Nama tersebut bukan hanya dikenal sebagai seorang dalang. Ia adalah salah satu maestro yang berhasil membawa wayang golek keluar dari kesan sebagai hiburan tradisional semata menjadi pertunjukan yang bisa dinikmati berbagai kalangan.

Asep Sunandar Sunarya dikenal sebagai dalang yang kreatif, komunikatif dan berani melakukan inovasi dalam pertunjukan wayang golek.`

Ia juga sangat lekat dengan kelompok Giri Harja 3 dan tokoh Cepot yang kemudian semakin populer di tengah masyarakat.

Bahkan setelah beliau meninggal dunia pada 31 Maret 2014, nama Asep Sunandar Sunarya masih terus disebut setiap kali orang membicarakan perkembangan wayang golek Sunda.

Lalu, siapa sebenarnya sosok Asep Sunandar Sunarya?

Bagaimana perjalanan hidupnya hingga dikenal sebagai maestro dalang wayang golek?

Dan kenapa gaya mendalangnya begitu membekas sampai sekarang?

Asep Sunandar Sunarya, Anak Dalang yang Tumbuh Bersama Wayang


Asep Sunandar Sunarya lahir di Bandung pada 3 September 1955. Ia merupakan putra dari dalang terkenal Abah Sunarya dan Cucun Jubaedah.

Darah seni pedalangan memang sudah mengalir dalam keluarganya.

Abah Sunarya dikenal sebagai tokoh penting dalam perjalanan Giri Harja. Dari keluarga inilah kemudian lahir sejumlah dalang yang ikut memperkuat tradisi wayang golek di Jawa Barat.

Nama Asep Sunandar Sunarya menjadi salah satu yang paling menonjol. Saat kecil, beliau memiliki nama panggilan Sukana.

Lingkungan tempat ia tumbuh membuat wayang golek bukan sesuatu yang asing. Wayang, dalang, gamelan dan berbagai aktivitas pertunjukan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Namun menjadi anak seorang dalang terkenal bukan berarti perjalanan Asep otomatis berjalan mulus. Ia tetap harus menemukan karakter dan gaya mendalangnya sendiri.

Ketertarikannya terhadap pedalangan bahkan sudah terlihat sejak usia sekolah. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan melanjutkan ke SMP, perhatiannya semakin banyak tercurah kepada dunia pedalangan.

Ia kemudian memperdalam ilmu mendalang, termasuk belajar kepada dalang Cecep Supriadi dari Karawang.

Abah Asep juga pernah mengikuti penataran dalang di RRI Bandung dan disebut sebagai lulusan terbaik.

Dari sinilah kemampuan Asep semakin terasah.

Ia bukan hanya belajar memainkan wayang, tetapi juga belajar bagaimana berkomunikasi dengan penonton.

Sebab seorang dalang nggak cukup hanya pintar membawakan cerita. Dalang harus mampu membuat penonton betah duduk berjam-jam. Dan Asep Sunandar Sunarya memahami hal tersebut.

Dari Panggung Hajatan hingga Menjadi Maestro Wayang Golek


Pada masa awal kariernya, Asep Sunandar Sunarya banyak tampil berdasarkan panggilan masyarakat.

Panggungnya bisa berada di halaman rumah orang yang sedang mengadakan hajatan, acara perkawinan, khitanan, atau kegiatan masyarakat lainnya.

Dari panggung-panggung seperti itulah ia bertemu langsung dengan penonton. Ia bisa melihat kapan penonton mulai bosan, bisa merasakan kapan suasana mulai sepi, dan ia tahu kapan harus membuat penonton kembali tertawa.

Di sinilah salah satu kekuatan Asep Sunandar Sunarya mulai terlihat. Ia nggak mau wayang golek hanya menjadi pertunjukan yang terpaku pada pakem secara kaku.

Tradisi tetap dijaga, tetapi cara penyampaiannya bisa dibuat lebih hidup.

Asep kemudian dikenal sebagai dalang yang mampu menjembatani penonton seni tradisional dengan masyarakat yang lebih luas. Humor menjadi salah satu kekuatan penting dalam pertunjukannya.

Bagi Mimin, inilah salah satu hal menarik dari Asep Sunandar Sunarya. Ia seperti memahami bahwa zaman berubah.

Kalau masyarakat berubah, cara menyampaikan kesenian juga harus bisa mengikuti. Tapi bukan berarti meninggalkan tradisi.

Justru tradisinya dipertahankan dengan cara yang lebih mudah diterima penonton.

Prestasi Asep Sunandar Sunarya


Kemampuan Asep Sunandar Sunarya kemudian dibuktikan melalui berbagai ajang pedalangan. Ia tercatat meraih Juara Pinilih I Binojakrama se-Jawa Barat pada 1978 dan 1982.

Kemudian pada 1985, ia menjadi juara umum dalang tingkat Jawa Barat dalam Binojakrama Padalangan di Subang dan memperoleh Bokor Kencana, salah satu penghargaan penting dalam dunia pedalangan Sunda.

Prestasi tersebut menunjukkan bahwa popularitas Asep bukan semata-mata karena kemampuan menghibur.

Di balik gaya pertunjukannya yang lucu dan komunikatif, ada kemampuan teknis pedalangan yang kuat.

Ia menguasai bagaimana memainkan wayang, membawakan karakter, mengatur dialog, menyusun cerita, sampai membangun hubungan dengan penonton.

Cepot dan Gaya Khas Asep Sunandar Sunarya


Kalau mendengar nama Asep Sunandar Sunarya, banyak orang mungkin langsung teringat kepada satu tokoh, yaitu Cepot.

Tokoh bernama lain Astrajingga ini memang sudah lama menjadi bagian dari dunia wayang golek Sunda.

Namun Asep Sunandar Sunarya berhasil membuat karakter Cepot semakin menonjol. Wajahnya merah, mulutnya ceplas-ceplos, gerakannya lucu, dan dialognya sering terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Cepot bukan lagi sekadar tokoh dalam cerita wayang. Ia seperti orang kampung yang tiba-tiba masuk ke tengah cerita kerajaan.

Bisa mengkritik, bercanda, menyindir, bahkan persoalan yang sedang terjadi di masyarakat bisa dibawa ke dalam dialognya.

Di tangan Asep Sunandar, humor Cepot menjadi salah satu jembatan antara cerita wayang dengan kehidupan penonton.

Hal seperti ini membuat orang yang sebelumnya mungkin nggak terlalu tertarik dengan wayang akhirnya ikut menikmati pertunjukan.

Tawa penonton menjadi bagian dari pertunjukan, dan Cepot menjadi salah satu tokoh yang paling ditunggu.

Wayang Golek yang Lebih Atraktif


Yang membuat Asep semakin dikenal bukan hanya kemampuannya memainkan dialog. Ia juga berani melakukan berbagai inovasi terhadap pertunjukan.

Salah satu contoh adalah penggunaan properti atau mainan berupa helikopter yang dapat dinaiki tokoh wayang. Inovasi semacam ini membuat pertunjukan wayang golek terasa lebih atraktif dan menarik perhatian penonton.

Bagi sebagian orang, mungkin hal tersebut terlihat sederhana. Tetapi untuk kesenian tradisional, keberanian melakukan inovasi seperti ini cukup penting.

Bayangkan saja, wayang golek yang identik dengan cerita kerajaan, peperangan dan tokoh pewayangan tiba-tiba menghadirkan sesuatu yang terasa modern.

Di situlah kreativitas Asep bekerja. Ia nggak berusaha menjadikan wayang golek sebagai sesuatu yang kehilangan identitas.

Sebaliknya, ia mencari cara agar penonton tetap tertarik menyaksikan wayang. Karena kalau penonton sudah nggak tertarik, sehebat apa pun tradisinya akan semakin sulit bertahan.

Giri Harja 3 dan Jejak Keluarga Sunarya


Nama Asep Sunandar Sunarya juga nggak bisa dipisahkan dari Giri Harja 3 yang memiliki perjalanan panjang dalam keluarga Sunarya.

Nama Giri Harja awalnya berkaitan dengan nama kampung dan kemudian berkembang menjadi nama kelompok atau padepokan wayang golek.

Dalam perkembangannya, muncul Giri Harja 1, Giri Harja 2, hingga Giri Harja 3 yang dipimpin Asep Sunandar Sunarya.

Dari sinilah nama Giri Harja semakin kuat dalam dunia wayang golek Sunda. Asep Sunandar Sunarya kemudian membawa Giri Harja 3 dengan gaya pertunjukannya sendiri.

Setelah Asep meninggal dunia, estafet kesenian tersebut diteruskan oleh generasi berikutnya.

Salah satunya adalah putranya, Dadan Sunandar Sunarya, yang kemudian memimpin Putra Giri Harja 3. Kelompok tersebut memiliki komitmen untuk menjaga keberlangsungan wayang golek sebagai warisan seni tradisi.

Ini menjadi bukti bahwa pengaruh seorang maestro nggak berhenti ketika ia meninggalkan dunia. Karya dan cara berpikirnya bisa diteruskan oleh generasi berikutnya.

Asep Sunandar Sunarya, Dalang yang Membuat Wayang Terasa Dekat


Ada satu hal yang menurut Mimin membuat sosok Asep Sunandar Sunarya menarik. Ia berhasil membuat wayang terasa dekat dengan kehidupan masyarakat.

Ketika Cepot berbicara, penonton seperti sedang mendengarkan orang di sekitar mereka. Bahasanya nggak terasa terlalu jauh, humornya nggak harus selalu berat, dan sindiran sosial bisa masuk tanpa harus menggurui.

Inilah yang membuat pertunjukan wayang golek Asep bisa diterima oleh berbagai lapisan masyarakat.

Wayang menjadi hiburan, tapi di saat bersamaan, tetap membawa cerita, nilai kehidupan dan pesan moral.

Seorang dalang memang mempunyai posisi penting dalam pertunjukan wayang golek. Ia bukan hanya orang yang menggerakkan wayang, tetapi pengatur cerita, suara, karakter, suasana dan komunikasi dengan penonton.

Asep Sunandar memahami semua itu. Ia tahu kapan harus serius, kapan harus membuat suasana tegang, kapan harus memasukkan humor, dan kapan harus membiarkan Cepot mengambil alih perhatian.

Karena itu, ketika membicarakan perkembangan wayang golek Sunda modern, nama Asep Sunandar Sunarya hampir selalu muncul.

Ia menjadi salah satu sosok yang berusaha menjembatani tradisi dengan selera penonton yang terus berubah.

Wafatnya Sang Maestro


Perjalanan Asep Sunandar Sunarya akhirnya berhenti pada 31 Maret 2014. Saat itu ia berusia 58 tahun.

Asep meninggal dunia di Rumah Sakit Al Ihsan Baleendah, Kabupaten Bandung, sekitar pukul 14.00 WIB. Beliau meninggal setelah mengalami serangan jantung.

Kabar tersebut tentu menjadi kehilangan besar bagi dunia seni tradisional Sunda. Seorang dalang yang selama puluhan tahun menghidupkan panggung wayang golek telah pergi.

Namun suara dalangnya nggak benar-benar hilang, rekaman pertunjukan masih bisa ditemukan.

Tokoh Cepot yang pernah ia mainkan masih terus mengundang tawa. Gaya mendalangnya masih dipelajari, dan nama Giri Harja tetap hidup melalui generasi penerus.

Bahkan sampai sekarang, rekaman pertunjukan Asep Sunandar Sunarya masih banyak ditonton masyarakat melalui berbagai platform digital.

Salah satunya adalah dokumentasi pertunjukan Giri Harja 3 yang memperlihatkan bagaimana gaya pementasan beliau tetap menjadi bagian penting dari dokumentasi wayang golek Sunda.

Warisan Asep Sunandar Sunarya untuk Wayang Golek Sunda


Kalau ditanya apa warisan terbesar Asep Sunandar Sunarya, jawabannya mungkin bukan hanya penghargaan, bukan hanya jumlah pertunjukan, dan bukan hanya rekaman.

Warisan terbesarnya adalah cara melihat kesenian tradisional. Bahwa kesenian tradisional nggak harus selalu ditampilkan dengan cara yang sama dari zaman ke zaman.

Tradisi boleh berkembang, kreativitas boleh masuk, teknologi boleh digunakan, humor boleh menjadi bagian penting. Asalkan identitas dan nilai budayanya tetap dijaga.

Asep Sunandar Sunarya telah menunjukkan hal tersebut melalui perjalanan panjangnya sebagai dalang.

Ia membawa wayang golek ke panggung masyarakat dengan bahasa yang lebih dekat, menjadikan Cepot semakin populer, melakukan inovasi dalam pertunjukan, memperkuat nama Giri Harja.

Dan yang nggak kalah penting, ia meninggalkan generasi penerus yang terus melanjutkan perjalanan seni pedalangan.

Karena itulah, ketika sekarang kita melihat pertunjukan wayang golek dan mendengar penonton tertawa ketika Cepot muncul, mungkin kita sedang melihat sebagian kecil dari jejak yang pernah ditinggalkan seorang maestro.

Asep Sunandar Sunarya, seorang dalang dari Jelekong yang nggak hanya memainkan wayang, tetapi juga berhasil membuat wayang terasa hidup di tengah masyarakat.

Dan mungkin itulah alasan kenapa nama beliau masih terus dikenang.

Sebab seorang seniman boleh pergi, tetapi ketika karyanya masih membuat orang tertawa, masih membuat orang belajar, dan masih membuat generasi berikutnya ingin memegang wayang, maka sebenarnya ia belum benar-benar pergi.