Tradisi Among-Among, Warisan Budaya Jawa yang Masih Dilestarikan di Mangunjaya Pangandaran

 

Tradisi Among-Among di Mangunjaya Pangandaran

Tradisi Among-Among, Warisan Budaya Jawa yang Masih Dilestarikan di Mangunjaya Pangandaran

Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, masih ada berbagai tradisi warisan leluhur yang tetap dijaga oleh masyarakat.

Salah satunya adalah tradisi among-among yang hingga kini masih dikenal oleh sebagian masyarakat Jawa di Kecamatan Mangunjaya, Kabupaten Pangandaran.

Mimin pertama kali mengenal tradisi ini dari cerita warga yang sering mengadakan syukuran sederhana ketika anak mereka berulang weton atau hari lahir menurut penanggalan Jawa.

Meski terlihat sederhana, ternyata tradisi among-among memiliki makna yang sangat dalam, mulai dari ungkapan rasa syukur, doa keselamatan, hingga sarana mempererat hubungan sosial antarwarga.

Bagi masyarakat Jawa yang tinggal di Mangunjaya dan beberapa wilayah lainnya di Pangandaran, among-among bukan sekadar acara makan bersama.

Tradisi ini menjadi bagian dari identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Mengenal Tradisi Among-Among


Among-among berasal dari kata among yang berarti mengasuh, merawat, atau membimbing.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, among-among merupakan bentuk syukuran sederhana yang dilakukan untuk memohon keselamatan, kesehatan, dan keberkahan kepada Tuhan.

Tradisi ini paling sering dilakukan untuk memperingati hari lahir atau weton anak, terutama bayi dan anak-anak yang masih kecil.

Namun dalam perkembangannya, among-among juga sering digelar sebagai bagian dari berbagai acara syukuran lainnya.

Melalui tradisi ini, keluarga yang memiliki hajat mengundang anak-anak sebaya untuk berkumpul, berdoa bersama, lalu menikmati hidangan yang telah disiapkan.

Menurut Mimin, salah satu hal yang membuat among-among menarik adalah suasananya yang sederhana namun penuh makna.

Nggak ada kemewahan berlebihan, tetapi justru terasa hangat karena melibatkan kebersamaan warga sekitar.

Masih Ditemukan di Mangunjaya Pangandaran


Kecamatan Mangunjaya dikenal sebagai salah satu wilayah di Pangandaran yang memiliki banyak masyarakat keturunan Jawa.

Karena itulah berbagai tradisi Jawa masih cukup mudah ditemukan, termasuk tradisi among-among.

Meski generasi muda kini hidup di era digital, sebagian keluarga masih mempertahankan tradisi ini sebagai bentuk penghormatan kepada warisan leluhur.

Biasanya ketika ada anak yang sedang wetonan atau keluarga yang ingin mengadakan syukuran.

Mereka akan menyiapkan hidangan khusus untuk kemudian didoakan dan dibagikan kepada anak-anak maupun warga sekitar.

Tradisi seperti ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai kebersamaan dan rasa syukur masih hidup di tengah masyarakat.

Dilaksanakan Saat Wetonan dan Acara Syukuran


Dalam kehidupan masyarakat Jawa, among-among umumnya dilakukan pada beberapa kesempatan tertentu.

Wetonan Anak

Pelaksanaan yang paling umum adalah saat wetonan atau hari lahir berdasarkan penanggalan Jawa.

Perhitungan weton dilakukan setiap 35 hari sekali atau yang dikenal dengan istilah selapan.

Pada hari tersebut, keluarga biasanya mengadakan syukuran sederhana sebagai ungkapan rasa syukur atas kesehatan dan keselamatan anak.

Syukuran dan Tolak Bala

Selain wetonan, among-among juga sering dilakukan saat pindah rumah, mendapat rezeki, memulai usaha baru, memohon keselamatan keluarga, dan tolak bala atau menolak musibah.

Dalam acara tersebut, doa bersama menjadi bagian penting sebelum makanan dibagikan kepada para tamu.

Anak-Anak Menjadi Bagian Penting Tradisi Among-Among


Hal yang paling khas dari among-among adalah keterlibatan anak-anak.

Biasanya anak-anak sebaya akan dikumpulkan di satu tempat untuk mengikuti doa bersama. Setelah doa selesai, makanan yang telah disiapkan akan dibagikan kepada mereka.

Di beberapa tempat, makanan tersebut bahkan diperebutkan oleh anak-anak dengan penuh kegembiraan.

Tradisi ini menciptakan suasana yang meriah sekaligus mengajarkan nilai berbagi sejak usia dini.

Mimin melihat bahwa melalui kegiatan sederhana ini, anak-anak belajar bersosialisasi, menghargai makanan, dan menjalin pertemanan dengan teman-teman sebayanya.

Sajian Khusus yang Penuh Makna Filosofis


Tradisi among-among identik dengan berbagai makanan yang disebut sebagai uborampe atau perlengkapan syukuran.

Setiap hidangan yang disajikan memiliki makna tersendiri.

Nasi Tumpeng dan Gudangan

Nasi putih yang dibentuk menyerupai tumpeng biasanya menjadi pusat sajian among-among.

Tumpeng melambangkan rasa syukur kepada Tuhan atas berbagai nikmat yang diberikan.

Sementara gudangan atau urap sayuran melambangkan kehidupan yang sehat, sederhana, dan penuh keberkahan.

Menariknya, tradisi ini juga menjadi cara orang tua mengenalkan sayuran kepada anak-anak sejak dini.

Karena itulah among-among secara tidak langsung mengajarkan anak untuk menghargai makanan, khususnya sayuran.

Bubur Merah dan Bubur Putih

Hidangan lain yang sering hadir adalah bubur merah dan bubur putih. Kedua bubur ini memiliki makna filosofis yang mendalam.

Bubur putih melambangkan unsur ayah, sedangkan bubur merah melambangkan unsur ibu.

Keduanya menjadi simbol asal-usul kehidupan manusia yang berasal dari kedua orang tua.

Jajan Pasar

Berbagai jajanan tradisional juga hampir selalu hadir dalam among-among. Mulai dari kue basah, wajit, klepon, hingga jajanan pasar lainnya.

Jajanan tersebut melambangkan kehidupan manusia yang penuh dengan berbagai rasa, mulai dari manis, pahit, hingga asam.

Semua itu menjadi pengingat bahwa kehidupan harus dijalani dengan rasa syukur dalam berbagai keadaan.

Mengajarkan Nilai Kebersamaan dan Rasa Syukur


Menurut Mimin, salah satu nilai paling penting dalam tradisi among-among adalah kebersamaan.

Di era sekarang, anak-anak lebih sering bermain dengan gawai dibanding berkumpul bersama teman sebaya.

Sementara dalam tradisi among-among, mereka diajak untuk bertemu langsung, berdoa bersama, dan menikmati makanan secara bersama-sama.

Selain itu, tradisi ini juga mengajarkan pentingnya rasa syukur.

Masyarakat diajak untuk selalu mengingat bahwa setiap rezeki, kesehatan, dan keselamatan yang diperoleh merupakan anugerah yang patut disyukuri.

Tradisi yang Tetap Bertahan di Tengah Perubahan Zaman


Seperti banyak tradisi lainnya, among-among juga menghadapi tantangan di era modern. Sebagian generasi muda mungkin sudah nggak terlalu mengenal makna tradisi ini.

Namun di beberapa wilayah seperti Mangunjaya Pangandaran, among-among masih tetap dijalankan oleh masyarakat yang ingin menjaga warisan budaya leluhur.

Meski bentuk pelaksanaannya mungkin mengalami sedikit penyesuaian, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap sama, yaitu rasa syukur, kebersamaan, dan doa untuk keselamatan.

Mimin berharap tradisi among-among tetap dikenal oleh generasi muda agar budaya lokal yang sarat makna ini nggak hilang ditelan zaman.

Karena sejatinya, tradisi sederhana seperti among-among bukan hanya tentang makanan atau syukuran, melainkan tentang menjaga hubungan antarwarga, memperkuat silaturahmi, dan mewariskan nilai-nilai kehidupan kepada generasi berikutnya.