Sejarah Dusun Gimbal di Mangunjaya, Pangandaran - Ada satu sudut di Pangandaran yang namanya sering bikin orang mengernyitkan dahi saat pertama kali dengar. Bukan karena sulit diucapkan, tapi karena terdengar tak biasa. Dusun Gimbal.
Waktu pertama kali Mimin dengar nama ini, rasanya campur aduk antara penasaran dan heran. Masa iya ada dusun yang dinamai seperti rambut kusut? Tapi justru dari situlah cerita panjangnya dimulai.
Dusun Gimbal bukan sekadar nama unik. Ia menyimpan lapisan sejarah, legenda, dan peninggalan masa lampau yang masih hidup dalam ingatan warganya sampai sekarang.
Letak Dusun Gimbal dan Identitas Wilayahnya
Dusun Gimbal berada di Desa Mangunjaya, Kecamatan Mangunjaya, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Wilayah ini merupakan bagian dari kawasan pedesaan yang masih memegang kuat tradisi dan cerita turun-temurun dari para leluhur.
Meski secara administratif terlihat seperti dusun biasa, masyarakat setempat percaya bahwa wilayah ini pernah menjadi tempat singgah penting pada masa lampau.
Nama Gimbal sendiri sudah digunakan sejak lama dan diwariskan secara lisan, jauh sebelum pencatatan wilayah dilakukan secara resmi seperti sekarang.
Bagi warga, nama ini bukan sekadar penanda tempat, tapi juga identitas yang menghubungkan mereka dengan masa lalu.
Asal Usul Nama “Gimbal”
Nama Dusun Gimbal dipercaya berasal dari peristiwa pada masa penjajahan VOC, sekitar abad ke-16 hingga ke-17 Masehi.
Saat itu terjadi peperangan besar yang melibatkan pasukan dari Batavia dan Belanda. Dalam peristiwa tersebut, hadir seorang senopati utusan dari Kerajaan Mataram bernama Dalem Djaya Mustafa.
Tokoh ini dikenal memiliki ciri fisik yang sangat mencolok, yakni rambut ikal yang kusut dan menggimbal. Rambut tersebut menjadi identitas yang mudah dikenali oleh siapa pun yang melihatnya.
Setelah peperangan yang panjang dan melelahkan, pasukan ini mundur dan sampai di wilayah yang kini dikenal sebagai Mangunjaya. Di tempat inilah, Dalem Djaya Mustafa diyakini berhenti, bertapa, dan mencapai ketenangan batin.
Cerita yang berkembang di masyarakat menyebutkan bahwa sang senopati kemudian mencapai moksa, menghilang secara spiritual tanpa meninggalkan jasad.
Peristiwa inilah yang membuat warga setempat menamai wilayah tersebut sebagai Dusun Gimbal, sebagai bentuk penghormatan sekaligus penanda sejarah.
Selain cerita tokoh dan moksa, Dusun Gimbal juga menyimpan jejak fisik peninggalan masa lalu. Di sebuah dataran tinggi ditemukan tiga batu kuno yang dipercaya telah ada sejak abad ke-7 Masehi.
Batu-batu tersebut terdiri dari fragmen yoni yang terbelah menjadi dua bagian, dan dua buah umpak batu berbentuk bulat
Peninggalan ini diyakini berasal dari masa peralihan antara Kerajaan Mataram dan Majapahit.
Meski makna pastinya belum sepenuhnya terungkap, keberadaan batu-batu ini memperkuat keyakinan warga bahwa Dusun Gimbal merupakan wilayah yang pernah memiliki peran penting di masa lampau.
Hingga kini, lokasi tersebut masih dijaga dan dihormati sebagai bagian dari identitas sejarah dusun.
Pasar Gimbal Mangunjaya
Di luar cerita sejarah dan legenda, Dusun Gimbal juga punya sisi kehidupan yang terus bergerak hingga sekarang, salah satunya lewat Pasar Gimbal. Pasar tradisional ini menjadi pusat aktivitas ekonomi dan sosial warga sekitar.
Yang membuatnya unik, Pasar Gimbal hanya buka dua kali dalam seminggu, yaitu hari Rabu dan Minggu. Pada hari-hari itu, dusun yang biasanya tenang berubah menjadi lebih ramai.
Warga datang untuk berjual beli kebutuhan pokok, hasil pertanian, jajanan tradisional, sekaligus menjadi ajang silaturahmi.
Pasar ini bukan sekadar tempat transaksi, tapi juga ruang bertemunya cerita lama dan kehidupan hari ini.
Keberadaan Pasar Gimbal menunjukkan bahwa Dusun Gimbal bukan hanya hidup dalam legenda masa lalu, tapi juga terus berdenyut mengikuti ritme zaman.
Soto Entog Pasar Gimbal
Berbicara tentang Dusun Gimbal nggak lengkap tanpa menyebut soto entog, kuliner khas yang dikenal oleh warga sekitar.
Soto ini menggunakan bahan utama entog (itik manila) yang dimasak dalam waktu lama hingga dagingnya empuk dan kaldunya kaya rasa.
Soto entog mudah ditemukan di dekat pasar, terutama ketika Pasar Gimbal buka di hari Rabu dan Minggu.
Aroma kuahnya yang gurih sering kali menguar di sekitar pasar, menggoda siapa saja yang datang.
Bagi warga Dusun Gimbal, soto entog bukan sekadar makanan. Ia adalah bagian dari kebiasaan, hidangan yang menemani obrolan, dan simbol sederhana dari kekayaan kuliner lokal yang masih bertahan sampai sekarang.



Terima kasih atas kunjungannya, silakan tinggalkan jejak di kolom komentar