Pengalaman Khitan Anak di Klinik Mitra Delima Banjarsari Ciamis - Mimin masih inget betul hari itu. Lagi santai di rumah, tiba-tiba anak Mimin yang usianya bahkan belum genap 4 tahun datang dengan wajah serius.
“Bapak, aku mau dikhitan.”
Bukan main kagetnya. Di usia segitu, anak masih takut ke dokter, apalagi soal khitan. Tapi setelah ditanya alasannya, semuanya jadi masuk akal.
Sebelumnya sempat dikasih iming-iming hadiah mobil remot, dinosaurus yang bisa jalan dan bersuara, baju baru, plus es krim besar. Lengkap. Anak kecil mana yang nolak? 😄
Sebagai orang tua, jujur saja, Mimin lebih deg-degan daripada anaknya. Khitan bukan hal sepele, apalagi dilakukan di usia yang masih sangat kecil.
Tapi karena itu datang dari keinginannya sendiri, Mimin dan istri sepakat untuk mendukung, sambil terus berdoa semoga prosesnya lancar dan anak nggak trauma.
Mencari Klinik Khitan Terbaik
Waktu itu posisi Mimin dan keluarga masih di Bandung. Rencananya, khitan akan dilakukan di kampung halaman istri, supaya sekalian di rumah neneknya anak. Selain lebih tenang, keluarga besar juga bisa ikut menemani.
Mulailah Mimin cari informasi klinik khitan terdekat. Tanya tetangga, tanya saudara, bahkan tanya orang yang baru saja mengkhitankan anaknya.
Dari beberapa rekomendasi, satu nama paling sering disebut, yaitu Klinik Mitra Delima.
Klinik ini beralamat di Sukamukti, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Meski sering disebut “dekat Padaherang”, secara administratif masuk wilayah Ciamis.
Banyak yang bilang pelayanannya bagus dan anak-anak biasanya nggak trauma.
Karena penasaran, Mimin langsung cari info lewat mesin pencari dan nemu nomor WhatsApp kliniknya.
Ternyata itu WhatsApp Bisnis, jadi nggak bisa ditelepon, hanya bisa chat. Tapi justru di situ kelihatan profesionalnya. Admin langsung membalas dengan ramah dan mengirimkan format pendaftaran.
Di dalamnya ada pilihan metode khitan lengkap dengan rincian biaya. Yang bikin Mimin cukup kaget, biayanya sangat terjangkau, hanya Rp650.000.
Di zaman sekarang, angka segitu tergolong murah, apalagi untuk layanan medis.
Karena masih di Bandung, Mimin dan istri memutuskan daftar secara online. Tinggal isi data anak, pilih tanggal khitan, dan menentukan waktu.
Mimin pilih 13 Januari 2026, sesi pagi, dengan pertimbangan supaya antrean belum terlalu panjang dan anak masih segar.
Beberapa hari menjelang hari H, akhirnya kami pulang lebih awal ke kampung. Tujuannya biar anak bisa istirahat cukup dan nggak capek perjalanan jauh menjelang khitan.
Hari H Khitan yang Bikin Deg-Degan
Satu hal yang paling Mimin takutkan sebelum khitan adalah soal pisah dari orang tua. Anak Mimin ini tipikal yang masih sangat nempel, terutama ke mamahnya.
Sementara di Klinik Mitra Delima, aturan cukup tegas, orang tua tidak boleh masuk ruang khitan. Hanya bisa mengantar sampai depan pintu.
Mimin cuma bisa berdoa. "Ya Allah, mudahkanlah. Jangan sampai anak rewel."
Tanggal 13 Januari, kami berangkat jam 5 pagi, ditemani saudara, pakai dua mobil. Tujuannya biar dapat antrean awal.
Sampai di klinik, suasana sudah cukup ramai. Kami langsung daftar ulang dengan menunjukkan bukti pendaftaran online.
Anak Mimin dapat nomor antrean 5. Harus nunggu sekitar dua jam. Di ruang tunggu, justru anak terlihat santai, main dan ngobrol. Yang kelihatan tegang malah Mimin sendiri.
Saat namanya dipanggil, jantung Mimin langsung berdegup kencang. Ada rasa pengen nangis juga, jujur saja.
Tapi petugas klinik benar-benar tahu cara menghadapi anak. Dengan senyum dan nada ramah, dia berkata, “Yuk, ambil hadiahnya di dalam.”
Tanpa ragu, anak Mimin langsung ikut. Sempat noleh ke belakang sebentar, tapi langsung diarahkan masuk.
Setelah itu, orang tua dipanggil ke bagian administrasi untuk melunasi pembayaran dan menerima obat.
Obat yang diberikan terdiri dari dua sirup, satu kaplet, dan obat tetes. Semuanya sudah dijelaskan cara pakainya.
Waktu menunggu rasanya lama banget. Padahal kata orang-orang, prosesnya cuma sekitar setengah jam. Tapi namanya orang tua nunggu anak, lima menit saja rasanya sejam.
Akhirnya anak keluar sambil nangis, tapi sambil bawa mainan Ultraman. Langsung Mimin rangkul dan gendong ke mobil. Pas ditanya kenapa nangis, jawabannya di luar dugaan.
“Gak mau pakai pelindungnya, jelek.”
Ternyata pelindung kelamin bawaan klinik bentuknya seperti topi. Anak nggak mau karena sudah punya celana khitan sendiri yang ada pelindungnya, bergambar Hulk dan Spiderman.
Tanpa mikir panjang, langsung Mimin ganti. Ajaibnya, setelah diganti, anak langsung tenang dan nggak nangis lagi sampai rumah.
Yang paling bikin Mimin heran, sampai sekarang anak nggak tahu proses khitannya. Ditanya disuntik atau nggak, dia nggak jawab. Ditanya sakit atau nggak, dia bilang nggak tahu.
Yang dia ingat cuma satu “Dikasih main game sama kakaknya.”
Alhamdulillah, setelah sekitar 10 hari, kondisi sudah jauh membaik. Bengkak hilang, luka kering, dan anak kembali lincah seperti sebelum khitan.
Pengalaman ini jadi bukti bahwa dengan tempat yang tepat dan pendekatan yang ramah anak, khitan bisa jadi pengalaman yang nggak menakutkan.
Baca juga : Klinik Khitanan Paramedika, Tempat Sunat Paling Favorit di Bandung



Terima kasih atas kunjungannya, silakan tinggalkan jejak di kolom komentar