Ketika Alam Nggak Lagi Ramah, Bencana Datang Tanpa Permisi

 

Bencana Alam

Ketika Alam Nggak Lagi Ramah, Bencana Datang Tanpa Permisi - Pernah nggak sih, Mimin duduk di teras rumah sambil dengar hujan, tapi rasanya bukan tenang, malah waswas?

Dulu hujan itu berkah. Sekarang, hujan sedikit aja bisa bikin banjir, longsor, bahkan memutus akses jalan. 

Di titik ini, Mimin sadar, mungkin bukan hujannya yang berubah, tapi cara kita memperlakukan lingkungan yang sudah kebablasan.

Lingkungan yang dulu ramah, pelan-pelan mulai kehilangan kesabarannya. Dan saat alam nggak lagi ramah, bencana datang tanpa permisi.

Bencana Bukan Sekadar Peristiwa Alam


Sering kali kita menyebut banjir, longsor, atau kekeringan sebagai bencana alam. Padahal kalau ditarik ke belakang, banyak bencana yang berawal dari ulah manusia sendiri.

Hutan ditebang tanpa perhitungan, sungai dipersempit, sampah dibuang sembarangan, ruang hijau diganti beton.

Alam sebenarnya selalu memberi tanda. Sungai mulai dangkal, udara makin panas, hujan jadi nggak menentu.

Tapi tanda-tanda itu sering kita anggap biasa, sampai akhirnya datang bencana yang memaksa kita berhenti dan bertanya: apa yang salah?

Ketika Lingkungan Kehilangan Ruang Bernapas


Lingkungan itu butuh ruang untuk bernapas. Pohon butuh tanah, air butuh aliran, dan manusia butuh keseimbangan.

Sayangnya, pembangunan sering kali berjalan tanpa kompromi. Semua ingin cepat, instan, dan menguntungkan, tanpa memikirkan dampak jangka panjang.

Akibatnya, daya dukung lingkungan menurun. Tanah nggak lagi mampu menyerap air, sungai meluap, dan daerah yang dulunya aman berubah jadi rawan bencana.

Di sinilah kita mulai paham, bahwa bencana bukan datang tiba-tiba. Ia lahir dari proses panjang pengabaian.

Peran Penting Pemerintah dalam Menjaga Lingkungan


Di tengah kondisi seperti ini, peran pemerintah khususnya Dinas Lingkungan Hidup jadi sangat krusial.

Mereka bukan cuma mengurus sampah atau taman kota, tapi juga menjaga keseimbangan ekosistem agar lingkungan tetap layak ditinggali.

Mulai dari pengawasan kualitas lingkungan, pengelolaan limbah, edukasi masyarakat, sampai perumusan kebijakan berbasis lingkungan, semuanya punya tujuan yang sama, yaitu mencegah kerusakan yang berujung bencana.

Salah satu contoh peran dan tanggung jawab tersebut bisa dilihat melalui profil dan tugas yang dijalankan oleh Dinas Lingkungan Hidup di daerah, seperti yang dijelaskan di halaman resmi berikut: https://dlhbonebolango.org/profile/tentang/

Dari sana kita bisa melihat bahwa menjaga lingkungan bukan kerja satu orang, tapi sistem yang melibatkan banyak pihak.

Bencana sebagai Peringatan, Bukan Hukuman


Mimin percaya, alam nggak pernah berniat menghukum. Bencana lebih seperti peringatan keras agar kita berhenti merusak dan mulai memperbaiki.

Sayangnya, setelah bencana berlalu, perhatian sering ikut berlalu. Padahal, mencegah selalu lebih murah dan lebih manusiawi dibanding menanggulangi.

Menanam pohon, menjaga sungai, memilah sampah, dan mendukung kebijakan ramah lingkungan mungkin terlihat kecil, tapi dampaknya besar jika dilakukan bersama-sama.

Lingkungan Sehat, Hidup Jadi Lebih Aman


Lingkungan yang sehat bukan cuma soal keindahan, tapi soal keselamatan. Ketika alam dijaga, risiko bencana bisa ditekan.

Saat ruang hijau dipertahankan, air punya tempat kembali ke tanah. Dan ketika manusia mulai sadar, alam pun perlahan kembali ramah.

Upaya ini tentu butuh kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan semua pihak yang peduli.

Informasi tentang peran lembaga lingkungan di daerah juga penting untuk diketahui publik, salah satunya bisa dibaca di sini: https://dlhbonebolango.org/profile/tentang/

Karena pada akhirnya, menjaga lingkungan berarti menjaga hidup kita sendiri.

Terima kasih atas kunjungannya, silakan tinggalkan jejak di kolom komentar