20 February 2020

Kesenian Tradisional Benjang Gelut dari Ujungberung

Benjang Gelut dari Ujungberung
Kesenian Tradisional Benjang Gelut dari Ujungberung - Ciri sabumi cara sadesa, merupakan peribahasa dalam bahasa Sunda yang memiliki arti beda tempat beda adat dan kebiasaan. Ya, suku Sunda memiliki adat dan budaya yang beragam. Salah satunya adalah kesenian tradisional benjang.

Benjang adalah kesenian tradisional yang memadukan seni Sunda dengan beladiri yang berasal dari Kecamatan Ujungberung, Bandung. Kesenian benjang terdiri dari tiga macam yaitu benjang gelut, benjang helaran, dan benjang topeng.

Terlepas dari sejarahnya, benjang gelut menjadi kesenian tradisional paling favorit di kalangan masyarakat Ujungberung. Benjang gelut merupakan perkembangan dari permainan adu kerbau yang diperagakan oleh manusia.

Bila dilihat dari segi gerakan, benjang gelut sangat mirip dengan olahraga gulat dari negeri Jepang.  Yaitu mendorong lawan dengan cara membungkuk untuk mendesak lawan dengan kepala, seperti kerbau sedang diadu.

Yang membedakan benjang gelut dengan gulat Jepang adalah gerakan benjang dikolaborasikan dengan ibing (tarian) pencak silat yang diiringi dengan nyanyian serta tabuhan alat musik tradisional.

Gerakan benjang gelut terbilang unik dan menarik karena banyak teknik kuncian mematikan dan trik cerdik untuk menjatuhkan lawan. Tapi, karena benjang gelut dianggap sebagai pertandingan yang berbahaya, maka sampai saat ini hanya dimainkan oleh kaum laki-laki. Sementara untuk kaum wanita hanya menjadi pengiring lagu dan penonton.

Tidak ada peraturan khusus untuk kelas atau tingkat lawan bertanding, baik berat badan, maupun tinggi rendahnya tubuh pemain. Yang dijadikan pertimbangan hanya keberanian dan kesanggupan menghadapi lawan.

Satu-satunya peraturan yang wajib dipatuhi dalam seni tradisional benjang gelut adalah ketika lawan tidak dapat membela diri dari himpitan dalam keadaan terlentang, maka pemain tersebut dinyatakan kalah. Jadi, ketika salah seorang pemain benjang posisinya sudah terkunci di bawah, maka pertandingan akan dihentikan.

Sebelum pemain benjang bertarung, mereka membuka pakaian terlebih dahulu hingga menyisakan celana pendek alias telanjang dada. Tujuannya adalah agar tidak ada kecurangan seperti membawa atau menyembunyikan senjata di balik pakaian yang dapat membahayakan lawan dalam pertandingan.

Dalam kesenian benjang, lagu memiliki peranan penting untuk mengiringi gerakan pemain yang sedang berlaga. Lagu khusus yang biasa dinyanyikan untuk mengiringi seni tradisional benjang gelut di antaranya kembang beureum, sorong dayung, dan renggong gancang.

Sedangkan alat musik yang digunakan untuk mengiringi lagu dan gerakan pemain benjang gelut adalah alat musik tradisional Sunda seperti terbang, kendang, bedug, tarompet, dan kecrek.

Pertunjukan benjang gelut biasanya digelar saat merayakan hari besar atau hajatan. Agar lebih meriah, pertunjukan seni tradisional dari Ujungberung ini sering dikolaborasikan dengan kesenian lain seperti badudan, kuda lumping, bangbarongan, dan topeng benjang.

Terima kasih atas kunjungannya, silakan tinggalkan jejak di kolom komentar