20 October 2019

Mengenal Wakaf Produktif Sambil Jelajah Kebun Indonesia Berdaya di Subang

Blogger Bandung Meet Up di Kebun Indonesia Berdaya
Blogger Bandung Meet Up di Kebun Indonesia Berdaya.
Foto by : Demia Kamil. 
Berbicara tentang wakaf, masyarakat pada umumnya lebih familiar dengan 3M, yaitu Masjid, Makam, dan Madrasah (sekolah). Masih belum terpikirkan ada obyek wakaf lain yang bisa dikelola secara produktif/wakaf produktif.

Wakaf produktif itu apa Min?

Wakaf produktif adalah harta yang disedekahkan atau diwakafkan untuk dikelola secara produktif, baik di bidang jasa, pertanian, atau perdagangan. Nah, untuk membangunkan kembali kesadaran masyarakat Indonesia tentang berwakaf, Dompet Dhuafa membangun sebuah gerakan/program bernama Wake Up Wakaf.

Dengan adanya program #WakeUpWakaf ini diharapkan tidak ada lagi pemahaman 3M di  kalangan masyarakat, terutama kaum milenial. Wakaf bukan hanya untuk kalangan orang kaya, wakaf juga tidak harus selalu ditunaikan dalam jumlah besar.

Sekarang wakaf semudah senyum, wakaf semudah chatt di smartphone.  Hanya dengan Rp 10.000 kita sudah bisa turut berkontribusi untuk membangun aset wakaf produktif. 

Masa sih Min, cuma Rp 10.000 bisa berwakaf?

Bisa, karena uang Rp 10.000 yang diwakafkan melalui Dompet Dhuafa akan masuk dalam donasi wakaf. Jadi, uang yang terkumpul akan digunakan untuk membangun asset wakaf seperti sarana pendidikan, ekonomi, kesehatan , dan sosial budaya.

Min, apakah sudah ada buktinya uang wakaf tersebut disalurkan ke mana?

Banyak, salah satunya digunakan untuk pembebasan lahan di Kabupaten Subang, dan lahan pertanian tersebut kemudian dikelola secara produktif.

Nah, untuk membuktikan benar atau tidaknya ada lahan yang sudah dibebaskan, Mimin sama teman-teman Blogger Bandung diajak berkunjung ke Kebun Indonesia Berdaya Subang. Lebih tepatnya beralamat di Desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Kota Subang, Jawa Barat.

Kebun Indonesia Berdaya merupakan salah satu asset wakaf produktif yang dikelola oleh Dompet Dhuafa. Saat pertama dibebaskan, lahan perkebunan ini hanya seluas dua hektare. Kemudian mengalami pengembangan menjadi 5 hektar, bertambah lagi jadi 8 hektare, dan saat ini menjadi 10 hektare.


Blogger Meet Up Dompet Dhuafa Subang
Blogger Meet Up Dompet Dhuafa Subang
Blogger Meet Up Dompet Dhuafa Subang
Foto bersama Blogger Meet Up Dompet Dhuafa Subang


Blogger Meet Up Dompet Dhuafa Subang 

Perjalanan Bandung-Subang memang nggak terlalu jauh dan bisa ditempuh selama dua jam. Tapi, karena tempat yang dituju adalah perkebunan, jalan menuju lokasi Kebun Indonesia Berdaya tidak semulus jalan raya. 

Tapi, perjalanan yang melelahkan seakan terbayar lunas oleh indahnya hamparan perkebunan buah naga yang hijau. Semilir angin sejuk seakan menyambut rombongan Blogger Bandung. 

Kami juga disambut dengan welcome drink berupa air nanas dan sate nanas. Nggak ketinggalan makanan hasil tani yang serba direbus di antaranya kacang, pisang, singkong, jagung, dan ubi. 


Blogger Meet Up Wake Up Wakaf
Blogger Meet Up Wake Up Wakaf

Sambil menikmati hidangan pembuka, kami mendapat pencerahan tentang wakaf produktif dan program Wake Up Wakaf dari Pak Bobby P. Manulang, selaku GM  Wakaf Dompet Dhuafa. Pembicara kedua pak Kamaludin, Manajer program ekonomi Dompet Dhuafa menjelaskan tentang pemberdayaan ekonomi produktif.

Ya, Kebun Indonesia Berdaya merupakan salah satu contoh program pemberdayaan ekonomi produktif Dompet Dhuafa. Tanah seluas 10 hektare yang ditanami buah naga dan nanas ini menjadi asset wakaf produktif yang bernilai ekonomi.


Rumah Industri Nanas di Desa Cirangkong Subang
Rumah Industri Nanas di Desa Cirangkong Subang

Selain Kebun Indonesia Berdaya, kini Dompet Dhuafa sudah membangun pabrik Ekstrak Buah Indonesia Berdaya yang disebut dengan nama Rumah Industri Pengolahan Nanas (Risin). Pabrik ekstrak buah yang berlokasi di Desa Cirangkong ini dijadikan tempat mengolah nanas, buah naga, pepaya, jambu kristal, dan alpukat.


Biasanya industri akan mematikan semua yang ada di masyarakat. Tapi, Rumah Industri Nanas nggak seperti itu karena memberdayakan masyarakat setempat. Risin memberdayakan kelompok petani nanas dan kelompok pengupas nanas. 

Masyarakat mengirim buah nanas ke pabrik berupa bahan setengah jadi (sudah dikupas). Setelah melalui pengecekan, nanas tersebut kemudian diolah menjadi selai dan ekstak. 

Kenpa Dompet Dhuafa memilih industri?

Karena kalau pemberdayaan biasa akan mengalami kendala pemasaran. Dengan melakukan pemberdayaan industri akan bisa mengejar market besar. salah satunya adalah perusahaan minuman kemasan ternama di Indonesia yang sudah siap menampung hasil olahan Rumah Industri Nanas. 

Kebun Indonesia Berdaya Dompet Dhuafa
Kebun Indonesia Berdaya Dompet Dhuafa

Jelajah Kebun Buah Naga di Kebun Indonesia Berdaya

Kurang afdol kalau datang ke Kebun Indonesia Berdaya nggak menjelajah area perkebunan buah naga. Kami diajak keliling perkebunan dan mengenal dua jenis buah naga. Ada buah naga putih dan buah naga merah. Tapi sayang saat kami datang ke KIB, buah naganya nggak berbuah. Jadi, nggak bisa panen buah naga deh. 


Kebun buah naga Dompet Dhuafa Subang
Kebun buah naga Dompet Dhuafa Subang

Selain menjadi sektor pertanian, Kebun Indonesia Berdaya juga jadi tempat wisata. Pengunjung bisa menikmati pemandangan pegunungan yang indah. Di lokasi asset wakaf ini juga disediakan tempat untuk menginap. Cocok banget buat kalian yang ingin ngadem sambil menikmati dinginnya malam di tengah perkebunan buah naga. 



Sentra Ternak Dompet Dhuafa Subang
Sentra Ternak Dompet Dhuafa Subang

Sentra Ternak Dompet Dhuafa Subang
Usai jalan-jalan di antara barisan pohon buah naga Kebun Indonesia Berdaya, kami diajak melihat peternakan kambing. Ada tiga kandang kambing berukuran besar, masing-masing kandang mampu menampung 80 ekor kambing. Satu kandang digunakan untuk pembibitan dan dua kandang lagi digunakan untuk penggemukan.

Yang unik dari peternakan kambing Dompet Dhuafa adalah pakan ternaknya nggak sepenuhnya dari rumput dan daun hijau. Melainkan campuran limbah kulit nanas, pohon pisang, dan jerami.

Limbah kulit nanas diolah menjadi pakan ternak dengan cara digiling menggunakan mesin penggiling, kemudian dibumbui dan dicampur dengan pakan lainnya. Dengan cara seperti ini nggak ada limbah kulit nanas yang terbuang sia-sia.

Kotoran kambing pun nggak jadi limbah yang mencemari lingkungan karena dijadikan pupuk tanaman. Jadi, semua tanaman yang ada di Kebun Indonesia Berdaya ini nggak memakai pupuk yang mengandung zat kimia. Maka nggak heran kalau buah yang dihasilkan di KIB berkualitas.

Terimakasih atas kunjungannya, silahkan tinggalkan jejak di kolom komentar