03 April 2019

Legenda Situ Bagendit Garut

Legenda Situ Bagendit
Legenda Situ Bagendit. 
Legenda Situ Bagendit Garut - Diceritakan zaman dulu di sebuah kampung ada seorang janda kaya raya bernama Nyi(Nyai) Endit. Wanita ini sudah tidak memiliki sanak saudara. Harta kekayaannya yang melimpah ruah merupakan warisan dari suaminya yang seorang rentenir.

Nyi Endit berbadan tinggi dan agak montok, tapi suaranya cempreng. Kalau sedang marah alias ngomel kepada anak buah/pegawai, suaranya kencang dan bikin sakit telinga. Wajahnya tidak cantik. Tapi, karena perbawa kekayaannya itu dirinya merasa paling cantik di kampungnya.

Setiap hari kerjanya mejeng/nongkrong di depan rumah sambil pamer pakaian dan perhiasan yang serba mewah. Kalung emasnya sebesar jari kelingking dan liontinnya sebesar uang koin. Gelang di kanan kiri, serta cincin menghiasi sepuluh jarinya. Anting-anting menggantung di telinganya membuatnya terlihat seperti toko emas berjalan.

Makanan enak selalu tersedia di meja. Selain nasi dan lauk pauk yang serba enak, di meja lain juga ada aneka buah-buahan. Makanan sebanyak itu tidak pernah dimakan ole orang lain. Meskipun di rumahnya ada pembantu dan pegawai lainnya, Nyi Endit tidak pernah mau berbagi dengan mereka.

Nyi Endit ini cerewet bin bawel. Kalau memerintah pegawainya harus selalu dituruti, tapi soal bayaran atau upah dia sangat perhitungan. Bukan hanya pegawainya yang merasakan kepelitan wanita ini, tapi warga sekampung pun turut merasakannya. Warga setempat sudah tidak asing lagi dengan sifat Nyi Endit, bahkan mereka menyebutnya dengan julukan Nyi Randa Pedit (Janda Pelit). 

Nyi Endit tidak pernah mau bergaul dengan orang kampung karena takut hartanya direbut. Dia juga tidak pernah mau memberi sumbangan untuk warga miskin. Kalau kebetulan ada pengemis yang datang ke halaman rumahnya, dia menyuruh pegawainya mengusir pengemis tersebut.

Di kampung itu Nyi Endit seperti hidup sendiri tanpa peduli dengan tetangga dan warga lainnya. Tidak pernah mau menolong siapapun. Setiap hari hanya mengurus harta kekayaannya karena takut ada yang mencuri. Lumbung padi yang berjajar semuanya dipasang gembok, pakaian ditumpuk-tumpuk dalam lemari, uang disembunyikan di bawah kasur.

Suatu hari datang seorang kakek berbadan kurus dan bungkuk. Kakek itu berjalan ditopang tongkat kayu. Pakaiannya kucel dan memakai topi anyaman yang sudah rusak.

Tiba-tiba sudah ada di depan pintu sambil mengucapkan salam. “Assalamualaikum. Ada orang di rumah? Maaf, Kakek memberanikan diri minta sedekah nasi, kakek kelaparan,”katanya, kemudian duduk di teras.

Ketika Nyi Endit mendengar ada orang yang mengucapkan salam dan minta sedekah nasi, ia bergegas membuka pintu. Dia berdiri di depan pintu sambil berteriak. Jari telunjuknya mengarah ke pada si kakek pengemis. “Apa kamu minta nasi? Saya punya makanan bukan dari hasil minta-minta. Kalau lapar ya usaha, bukan mengemis”.

Nyi Endit kemudian mengusir si kakek sambil mendorong badannya sampai ke halaman. Kakek pengemis tak berdaya saat diusir oleh pemilik rumah, lalu keluar sambil dituntun tangannya oleh pegawai Nyi Endit. 

Hatinya sangat terluka karena makian Nyi Endit yang kasar dan tak berperikemanusiaan. Setelah keluar dari halaman rumah Nyi Endit, kakek pengemis menghilang begitu saja, meninggalkan tongkat kayu yang menancap di tanah.

Rasa kesal dan marah Nyi Endit masih belum reda. Tongkat kayu milik kakek pengemis langsung diambil kemudian dilempar ke jalan. Tapi aneh bin ajaib, dari tanah bekas tongkat tersebut keluar air seperti air mancur. Semakin lama semakin besar sampai membanjiri halaman rumah Nyi Endit. 

Janda yang tersohor pelit ini merasa kaget kemudian memerintahkan pegawainya untuk menutupi lubang air. Tapi air tersebut malah semakin banyak dan semakin deras sampai menenggelamkan rumah dan harta kekayaan Nyi Endit.

Nyi Endit berteriak minta tolong, meskipun dalam keadaan darurat ia tidak mau melepaskan emas dan berlian yang ada dalam gendongan. Tetangga dan warga setempat tidak ada yang mau menolongnya, mereka berusaha menyelamatkan diri masing-masing. 

Air yang keluar dari tanah bekas tongkat kayu si kakek pengemis semakin banyak. Rumah Nyi Endit pun akhirnya tenggelam bersama harta kekayaan dan pemiliknya. Air tidak surut hingga akhirnya menggenangi seluruh kampung dan menjadi danau alias situ. Danau tersebut dinamai Situ Bagendit, berlokasi di Desa Bagendit, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Ini hanya salah satu cerita yang beredar di kalangan warga sekitar Situ Bagendit. Masih banyak versi lainnya  tentang legenda Situ Bagendit ini. Ada yang menyebutkan bahwa air tersebut merupakan banjir bandang yang datang tiba-tiba, ada juga yang mengatakan bahwa pengemis dalam cerita tersebut adalah seorang wanita.

Tapi bagaimanapun ceritanya, ini adalah sebuah pelajaran buat kita semua, bahwa manusia tidak hidup sendiri dan membutuhkan orang lain. Jadi, kita harus saling menolong dengan sesama manusia. Gengan demikian di saat kita terkena musibah, orang lain mau menolong juga.

Alamat Situ Bagendit :
Desa Bagendit, Kecamatan Banyuresmi,
Kabupaten Garut, Jawa Barat, Indonesia

Baca juga Legenda Gunung Tampomas Sumedang

Terimakasih atas kunjungannya, silahkan tinggalkan jejak di kolom komentar