26 July 2018

Fornas LKSA-PSAA Canangkan 26 Juli Sebagai Hari Anak Yatim Nasional

Fornas LKSA-PSAA Canangkan 26 Juli Sebagai Hari Anak Yatim Nasional
Fornas LKSA-PSAA Canangkan 26 Juli Sebagai Hari Anak Yatim Nasional
Forum Nasional Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak - Panti Sosial Asuhan Anak (Fornas LKSA-PSAA) merupakan sebuah Organisasi Non pemerintahan yang digagas serta digerakkan oleh para Ketua Panti Asuhan Anak, praktisi, dan aktivis perlindungan anak di seluruh Indonesia.

Lembaga yang peduli terhadap kesejahteraan anak yatim ini telah berdiri selama 7 tahun, dengan beranggotakan 5.540 lembaga pengasuhan anak yang menaungi sekitar 315.000 anak asuh di seluruh Nusantara.

Fornas LKSA-PSAA telah melakukan pergantian kepengurusan dan sekaligus menyelenggarakan Musyawarah Nasional pertama yang berlangsung mulai dari 24 sampai 27 Juli 2018, yang bertempat di Hotel Grand Asrilla Bandung, yang dihadiri oleh perwakilan pengurus  LKSA-PSAA dari 26 Provinsi di Indonesia.

Tujuan utama dari Munas Forum yang bertemakan “Tanamkan Peduli, Tumbuhkan Kolaborasi” ini adalah untuk memicu peningkatan standar dan kualitas pengasuhan anak melalui proses pertukaran informasi, diskusi program, peningkatan kapasitas lembaga, hingga pemetaan kolaborasi antar stakeholder terkait pengasuhan anak. 

Berdasarkan UU Republik Indonesia No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, anak adalah seseorang yang belum berusa 18 tahun, termasuk anak yang masih berada di dalam kandungan. 

Sedangkan yang dimaksud perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan juga hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. 

Orang tua, keluarga, masyarakat, Pamerintah, dan Negara merupakan stakeholder strategis yang wajib menjamin, melindungi, dan memenuhi hak-hak anak ini. 

Drs. H. Yanto Mulya Pibiwanto yang baru saja terpilih menjadi Ketua Fornas LKSA-PSAA mengatakan, para pengelola lembaga pengasuhan anak, pemerintah, dan masyarakat diproyeksikan untuk bisa berkolaborasi dalam menangani berbagai permasalahan sosial anak yang terjadi saat ini.

Permasalahan sosial anak seperti gizi buruk, kekerasan, eksploitasi penelantaran, pelecehan seksual, dan juga kejahatan di bawah umur memerlukan kepedulian dan kepekaan sosial dari seluruh elemen masyarakat.

Dalam Munas ini, Fornas LKSA-PSAA menginisiasi pencanagan tanggal 26 Juli sebagai Hari Anak Yatim, sehingga tahun-tahun selanjutnya bisa diperingati secara konsisten. Pencanangan Hari Anak Yatim Nasional ini mendapat dukungan dari Direktorat anak di Kementerian Sosial.

Setelah hari anak yatim tersebut ditetapkan secara resmi, maka nantinya bisa dijadikan sebagai pengingat agar kita lebih peduli terhadap kondisi anak-anak yatim di panti asuhan. Momen ini juga diharapkan bisa membuka lebih banyak peluang kolaborasi dalam berbagai aspek pengasuhan anak.

Pentas Kolaborasi Anak yatim dan seniman Dream Collabo Action.
Pic by : Ratri Chibie
Pentas Kolaborasi Anak Yatim dan Seniman "Dream Collabo-Action"
Dalam kegiatan yang berisikan pencanangan dan peringatan Hari Anak yatim 26 Juli 2018 ini dimeriahkan dengan pementasan bakat dan potensi anak-anak panti asuhan yang berkolaborasi dengan seniman Indonesia bertema "Dream Collabo-Action".

Dengan adanya kolaborasi ini, mimpi anak panti asuhan akan menjadi kenyatan seperti layaknya anak Indonesia lainnya. Bakat dan potensi mereka didorong perkembangannya melalui sebuah aksi kolaborasi yang melibatkan para seniman dan tokoh di Indonesia yang dikemas dalam sebuah pementasan istimewa.

Drs. H. Arif Bijaksana, selaku ketua pelaksana Munas Formas LKSA-PSAA di Bandung mengatakan, alhamdulillah kami mendapatkan respon dan dukungan yang baik dalam mewujudkan konsep Dream Collabo-Action ini. Seniman-seniman seperti link Rosemary, Ebith Beat A, Saung Angklung Udjo, hingga Kang Epi Kusnandar dan para pemain Preman Pensiun, membuka lebar peluang untuk berkolaborasi dengan anak-anak asuh kami.

"Kami pun sangat menghargai Kak Seto yang sudah berkenan memberikan treatment khusus bagi anak-anak asuh yang dikemas dalam program "Bergembira Bersama Kak Seto". Anak-anak yatim ini insya Allah benar-benar merasakan perlakuan yang sangat istimewa di Hari Anak Yatim tanggal 26 Juli 2018 ini." pungkas Arif.

Ink Mary, seorang seniman yang terlibat dalam pentas dream kolabo  Action mengatakan,  ini merupakan anugerah buat dirinya, karena dari sekian panggung yang pernah dijalani selama ini tidak semenarik ini, bahkan melebihi pertunjukan yang pernah dia alami. 

Kebetulan pemilik panti asuhan Nur Syifa ini adalah guru yang mengasuh saya waktu sekolah TK, dan akhirnya sekarang bisa kolaborasi dengan anak asuhnya. Biasanya kami mengundang anak-anak panti asuhan hanya untuk melihat pertunjukan seniman yang ada  di Indonesia, tapi sekarang mereka bisa tampil dan berkolaborasi dengan para seniman. Ternyata mereka memiliki potensi yang besar untuk menjadi seniman.

Dalam kesempatan yang sama, Ebith Beat A seorang seniman asli Bandung mengatakan, saya hanya bisa berkontribusi melalui apa yang saya bisa, saya berpikir kalau secara materi belum mampu memberikan yang banyak untuk mereka.

Mudah-mudahan kontribusi yang kecil ini menjadi keberkahan buat saya dan anak-anak panti asuhan. Dengan berkolaborasi ini mudah-mudahan bisa mewujudkan mimpi mereka yang mempunyai minat seni tapi belum ada ruang untuk mengeksplore kemampuannya.

Terimakasih atas kunjungannya, silahkan tinggalkan jejak di kolom komentar